Tampilkan postingan dengan label Cermin Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin Hati. Tampilkan semua postingan

23 Juli 2010

Melatih Sabar Dari Celaan Orang Lain

0 komentar

Suatu hari, ketika sedang berjalan di sekitar Masjidil Haram,
Ali Zainul Abidin rahimahullah bertemu dengan seorang laki-laki
yang dikenal suka mencela dan memaki.

Lelaki itu menegur Ali, "Hai orang fajir."

Menyadari dirinya ditegur, Ali menyahut,
"Semoga Allah memberimu pahala yang banyak."

Orang itu kembali menegurnya,
"Hai munafik".

"Semoga Allah memberkahi dirimu," sahut Ali.

Tak puas dengan makian itu, lelaki tersebut berkata,
"Hai orang fasik."

"Semoga Allah memberikan petunjuk-Nya
kepadaku dan juga kepadamu,"
jawab Ali sembari tersenyum.

Ketika lelaki itu hendak beranjak pergi, Ali menegurnya,
"Engkau hanya menyebutkan tiga sifatku saja,
padahal aku memiliki lebih banyak
dari yang engkau sebutkan tadi.
Apakah engkau ingin mengetahuinya? "

Mendengar ucapannya, lelaki itu menoleh
dan menatap wajahnya.
Seketika ia berkata,
"Aku bersaksi, sungguh engkau adalah
putra (cucu) dari Rasulullah saw."


-=-=-=-


Marilah kita berlatih bersabar...
terutama diri saya pribadi.
walau sulit, mari kita belajar dan berlatih.


Karena itulah teladan dari orang-orang sholih terdahulu.



Nukilan dari Tarbawi Edisi 231 Th. 11, Rajab 1431, 1 Juli 2010 - Jangan Lelah Belajar Rela Kepada Allah.


24 Juni 2010

Kisah Batu Kecil

0 komentar

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.
Pekerja itu berteriak-teriak,tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperoleh hasil yang sama.

Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

Tuhan kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali Tuhan melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat
kepadaNya, Tuhan sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.


Karena Allah atau Karena Rumput?

0 komentar


Diceritakan bahwa Nabi Musa as. pernah mengeluh kepada Allah SWT karena menderita sakit gigi. Maka Allah SWT memerintahkan: “Ambillah rumput orang itu dan letakkan pada gigimu!”

Lalu Nabi Musa as. melakukan apa yang telah diperintahkan Allah SWT,sehinga sakitnya mereda seketika. Kemudian setelah beberapa saat, sakit gigi yang dialami Nabi Musa as. kambuh lagi. Maka Nabi Musa as. mengambil kembali rumput itu dan meletakkan pada giginya. Ternyata yang terjadi bukan sakitnya berkurang, melainkan bertambah parah beberapa kali lipat.

Merasa sakitnya makin parah, Nabi Musa as. pun mengadu kembali kepada Allah SWT: “Ya Tuhanku, bukankan engkau menyuruhku melakukan ini dan telah menunjukkan aku padanya?”

Allah SWT menjawab: “Hai Musa, Akulah yang menyembuhkan dan Akulah yang menyehatkan. Aku yang memberi bencana dan akulah yang memberi manfaat. Engkau menuju kepada-Ku untuk yang pertama, lalu aku hilangkan penyakitmu. Sekarang engkau menuju rumput dan tidak menuju kepada-Ku.”


*) Disarikan Nuruzh-Zhalâm karya Syekh Nawawi Banten (www.sidogiri.net)


Jejak Kedermawanan Rasulullah

0 komentar

Sayyidina Umar bin Khattab bercerita, suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi, Rasulullah juga memberinya. Keesokan harinya, datang lagi dan kembali meminta, Rasulullah pun memberinya. Keesokan harinya, ia datang kembali untuk meminta-minta, Rasulullah lalu bersabda, “Aku tidak mempunyai apa-apa saat ini. Tapi, ambillah yang kau mau dan jadikan sebagai utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku yang akan membayarnya.”

Umar lalu berkata, “Wahai Rasulullah janganlah memberi diluar batas kemampuanmu.” Rasulullah tidak menyukai perkataan Umar tadi. Tiba-tiba, datang seorang laki-laki dari Anshar sambil berkata, “Ya Rasulullah, jangan takut, terus saja berinfak. Jangan khawatir dengan kemiskinan.” Mendengar ucapan laki-laki tadi, Rasulullah tersenyum, lalu beliau berkata kepada Umar, “Ucapan itulah yang diperintahkan oleh Allah kepadaku.” (HR Turmudzi).

Jubair bin Muth’im bertutur, ketika ia bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba orang-orang mencegat beliau dan meminta dengan setengah memaksa sampai-sampai beliau disudutkan ke sebuah pohon berduri.

Kemudian salah seorang dari mereka mengambil mantelnya. Rasulullah berhenti sejenak dan berseru, ”Berikan mantelku itu! Itu untuk menutup auratku. Seandainya aku mempunyai mantel banyak (lebih dari satu), tentu akan kubagikan pada kalian (HR. Bukhari)

Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW bercerita, suatu hari Rasulullah masuk ke rumahku dengan muka pucat. Aku khawatir beliau sedang sakit. “Ya Rasulullah, mengapa wajahmu pucat begini?” tanyaku.

Rasulullah menjawab, ”Aku pucat begini bukan karena sakit, melainkan karena aku ingat uang tujuh dinar yang kita dapat kemarin sampai sore ini masih berada di bawah kasur dan kita belum menginfakkannya.” (HR Al-Haitsami dan hadistnya sahih).

Aisyah berkata, suatu hari, ketika sakit, Rasulullah SAW menyuruhku bersedekah dengan uang tujuh dinar yang disimpannya di rumah. Setelah menyuruhku bersedekah, beliau lalu pingsan. Ketika sudah siuman, Rasulullah bertanya kembali: “Uang itu sudah kau sedekahkan?” “Belum, karena aku kemarin sangat sibuk,” jawabku Rasulullah bersabda, “Mengapa bisa begitu, ambil uang itu!”.
Begitu uang itu sudah di hadapannya, Rasulullah lalu bersabda, “Bagaimana menurutmu seandainya aku tiba-tiba meninggal, sementara aku mempunyai uang yang belum kusedekahkan? Uang ini tidak akan menyelamatkan Muhammad seandainya ia meninggal sekarang, sementara ia mempunyai uang yang belum disedekahkan,”. (HR Ahmad).

Sahl bin Sa’ad bertutur, suatu hari datang seorang perempuan menghadiahkan kepada Nabi Saw sepotong syamlah yang ujungnya ditenun (syamlah adalah baju lapang yang menutup seluruh badan). Perempuan itu berkata, “Ya Rasulullah, akulah yang menenun syamlah ini dan aku hendak menghadiahkannya kepada Engkau.” Rasulullah pun sangat menyukainya. Tanpa banyak bicara, beliau langsung mengambil dan memakainya dengan sangat gembira dan berterima kasih kepada wanita itu. Rasulullah betul-betul sangat membutuhkan dan menyukai syamlah tersebut.

Tidak lama setelah wanita itu pergi, tiba-tiba datang seorang laki-laki meminta syamlah tersebut. Rasulullah pun memberikannya. Para sahabat yang lain lalu mengecam laki-laki tersebut. Mereka berkata, “Hai Fulan, Rasulullah sangat menyukai syamlah tersebut, mengapa kau memintanya? Kau kan tahu Rasulullah tidak pernah tidak memberi kalau diminta?” Laki-laki itu menjawab, “Aku memintanya bukan untuk dipakai sebagai baju, melainkan untuk kain kafanku nanti kalau aku meninggal”. Tidak lama kemudian, laki-laki itu meninggal dan syamlah tersebut menjadi kain kafannya. (HR Bukhari).

Beberapa kisah diatas hanyalah sebutir jejak kedermawanan Nabi Muhammad SAW. Kisah-kisah lainnya bagaikan gunung pasir tertinggi yang takkan pernah sanggup diimbangi oleh siapapun, termasuk para sahabat-sahabat terdekatnya di masa beliau masih hidup. Sahabat-sahabat Rasulullah hanya bisa meniru kedermawanan yang diajarkan Baginda Rasul itu, yang kemudian menambah panjang jejak sejarah kedermawanan yang dicontohkan Nabi dan para sahabatnya.

Lihatlah Thalhah bin Ubaidillah, seorang sahabat yang kaya raya namun pemurah dan dermawan. “Sungai yang airnya mengalir terus menerus mengairi dataran dan lembah” adalah lukisan tentang kedermawanan seorang Thalhah. Isterinya bernama Su’da binti Auf. Pada suatu hari isterinya melihat Thalhah sedang murung dan duduk termenung sedih. Melihat keadaan suaminya, sang isteri segera menanyakan penyebab kesedihannya dan Thalhah mejawab, “Uang yang ada di tanganku sekarang ini begitu banyak sehingga memusingkanku. Apa yang harus kulakukan ?”

Maka istrinya berkata, “Uang yang ada di tanganmu itu bagi-bagikanlah kepada fakir miskin.” Maka dibagi-baginyalah seluruh uang yang ada di tangan Thalhah tanpa meninggalkan sepeserpun.

Assaib bin Zaid berkata tentang Thalhah, “Aku berkawan dengan Thalhah baik dalam perjalanan maupun sewaktu bermukim. Aku melihat tidak ada seorangpun yang lebih dermawan dari dia terhadap kaum muslimin. Ia mendermakan uang, sandang dan pangannya.”

Jaabir bin Abdullah bertutur, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih dermawan dari Thalhah walaupun tanpa diminta.” Oleh karena itu patutlah jika dia dijuluki “Thalhah si dermawan”, “Thalhah si pengalir harta”, “Thalhah kebaikan dan kebajikan”.

Sahabat lain yang mengukir jejak indah kedermawanan mencontoh Nabi adalah Tsabit bin Dahdah yang memiliki kebun yang bagus, berisi 600 batang kurma kualitas terbaik. Begitu turun firman Allah, “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (pembayaran) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (Al-Hadid: 11). Dia bergegas mendatangi Rasulullah untuk bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Allah ingin meminjam dari hambanya?”

“Benar,” jawab Rasulullah.

Spontan Tsabit bin Dahdah mengacungkan tangannya seraya berkata, “Ulurkanlah tangan Anda, wahai Rasulullah.”

Rasulullah mengulurkan tangannya, dan langsung disambut oleh Tsabit bin Dahdah sambil berkata, “Aku menjadikan Anda sebagai saksi bahwa kupinjamkan kebunku kepada Allah.” Tsabit sangat gembira dengan keputusannya itu. Dalam perjalanan pulang dia mampir ke kebunnya. Dilihatnya isteri dan anak-anaknya sedang bersantai di bawah pepohonan yang sarat dengan buah.

Dari pintu kebun, Dipanggillah sang isteri, “Hai Ummu Dahdah! Ummu Dahdah! Cepat keluar dari kebun ini, Aku sudah meminjamkan kebun ini kepada Allah!” Isterinya menyambut dengan suka cita, “Engkau tidak rugi, suamiku, engkau beruntung, engkau sungguh beruntung!” Segera dikeluarkannya kurma yang ada di mulut anak-anaknya seraya berkata, “Ayahmu sudah meminjamkan kebun ini kepada Allah.”

Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Rasulullah bersabda, “Berapa banyak pohon sarat buah yang kulihat di surga atas nama Abu Dahdah.” Artinya, Allah memberi Tsabit bin Dahdah pohon-pohon yang berbuah lebat di surga sebagai ganti atas pemberiannya kepada-Nya di dunia.

Indah nian jejak-jejak kedermawanan Nabi Muhammad SAW, lebih indah lagi apa-apa yang dijanjikan Allah atas apa yang diberikan di jalan-Nya. Karenanya, seluruh sahabat pada masa itu berlomba-lomba mengikuti jejak Nabi dalam segala hal, termasuk tentang kedermawanan. Semoga, jejak kedermawanan itu terus terukir pada ummat Muhammad hingga kini selama kita masih terus meleburkan diri pada rantai jejak indah itu, dan mengajarkannya kepada anak-anak dan penerus kehidupan ini.(Sumber)

19 Mei 2010

Belajar Dari Rasulullah (20/05/2010)

0 komentar

Thaif dalam sejarah awal perjuangan Rasulullah Muhammad SAW memang sangat pahit. Terhitung tiga tahun sebelum hijrah, Rasulullah SAW melakukan perjalanan ke Thaif untuk melakukan dakwah dan mengajak Kabilah Tsaqif masuk Islam. Perjalanan ini dilakukan tidak lama setelah wafatnya Siti Khadijah pada 619 Masehi dan wafatnya Abu Thalib, pelindung utama yang juga paman Rasulullah SAW pada 620 Masehi.

Meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah ini yang disegani oleh kaum musyrik Qurais, membuat mereka semakin berani mengganggu Rasulullah SAW. Oleh karena itu, jika warga kota Thaif mau menerima Islam, kota ini akan dijadikan tempat berlindung bagi warga muslimin dari kekejaman kaum musyrikin Makkah.

Untuk menghindari penganiayaan yang lebih berat secara diam-diam dan dengan berjalan kaki, Rasulullah mencoba pergi ke Thaif untuk meminta pertolongan dan perlindungan. Rasulullah tinggal di Thaif selama sepuluh hari untuk berdakwah dan meminta perlindungan. Namun, ternyata penduduk Thaif melakukan penolakan dan memperlakukan Rasulullah dengan kasar.

Saat itu, kaum Tsaqif melempari Rasulullah SAW, sehingga kakinya terluka. Tindakan brutal penduduk Thaif ini membuat Zaid bin Haritsah membelanya dan melindunginya, tapi kepalanya juga terluka akibat terkena lemparan batu. Akhirnya, Rasulullah berlindung di kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah.

Saat itu, Rasulullah SAW berdoa, "Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih ladi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?

Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akherat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu."

Dari do'a ini tentu semua begitu memahami betapa beratnya cobaan Rasulullah SAW saat itu dalam menghadapi penganiayaan dengan penuh ridho, ikhlas dan sabar, serta tidak pernah berputus asa. Seperti sejumlah cerita yang diriwayatkan kembali Ulama Hadist terkenal, Imam Bukhori dan Muslim dari Asiyah RA (istri kedua Rasulullah SAW).

Ia (Aisyah) berkata, "Wahai Rasulullah SAW, pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat dari peristiwa Uhud?“ Jawab Nabi saw, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Tetapi penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah di mana aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib.

Lalu aku angkat kepalaku, dan aku pandang dan tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu,“ Rasulullah SAW melanjutkan.

"Kemudian Malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku lalu berkata, “ Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka." Jawab Rasulullah SAW, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun.“ Subhanallah..!!

Kisah Rasulullah ketika berada di Thaif, dengan segala kesulitan dan kesedihan, beliau bersama Zaid, RA menghadang lemparan batu dan cacian masyarakat Thaif. Ketika itu ada tawaran dari Malaikat penjaga bukit untuk menghimpitkan bukit Abu Qubais dan bukit Ahmar kepada mereka. Namun tawaran ini ditolak oleh Rasulullah, bahkan beliau berdoa : Allahummahdii qawmii fainnahum laa ya'lamuun" (Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena mereka masih juga belum faham tentang arti Islam). Dengan doa ini anak keturunan masyarakat thaif menjadi generasi rabbani pendukung dakwah nabi dikemudian hari.

===============================================================

Dan kini, kurang lebih 14 abad setelah kepergian beliau SAW, ada sebagian manusia yang karena ketidak tahuan, dan hasad di hatinya terang terangan menghinakan serta memusuhi beliau SAW, juga agama yang dibawa olehnya. Ya Allah, sesungguhnya mereka ingin membuat tipu daya, sedangkan Engkaulah sebaik-baik pembalas tipu daya. Sesungguhnya mereka hendak memadamkan cahaya agamaMU dengan mulut serta segala tipu daya mereka, sedangkan tidaklah yang Engkau hendaki melainkan tetap menyempurnakan cahaya-MU. Walaw karihal kafirun, walaw karihal munafiqun .

“ Duhai dzat yang memegang hati, yang membolak balikkan hati, Demi kemulianMU, demi ketinggian Dien-MU, hujamkanlah hidayahMU kepada mereka, sesungguhnya mereka belum mengetahui akan keindahan akhlak rasulMU, serta ketinggian DienMU... Munculkanlah dari mereka, atau keturunan mereka orang orang yang akan dengan ikhlas tunduk patuh dalam menyembah kepadaMU serta ridla akan DienMU... Kabulkanlah permohonan hambaMu yang lemah ini ya allah, sebgaimana kau kabulkan doa nabiMU, RasulMu, Muhammad SAW kepada penduduk Thaif... "

Allhumma Shalli 'alaa muhammad wa 'ala ali muhammad

Wa laa haula wa la Quwwata illa billahi....

12 Mei 2010

Seember Susu

0 komentar

Dua ekor katak berlompatan dengan riangnya di sebuah halaman rerumputan sebuah peternakan sapi. Seorang ibu yang sedang membersihkan halaman kandang yang melihat kedua katak itu berusaha mengusir dengan sebuah gagang sapu dan membuat kedua katak itu lari ketakutan.

“Cepat, kearah sana”, kata salah seekor katak itu

“Saya melihat tempat persembunyian yang baik dan pasti sulit dijangkau oleh gagang sapu itu” kata si katak menunjuk arah kandang sapi perah yang ada didalam peternakan tsb.

“Ayo, cepat” seru si katak pertama dan keduanya melompat-lompat melompat tinggi, lebih tinggi, semakin tinggi lompatannya dan sangat tinggi kearah pagar kandang menuju tempat dimana mereka akan bersembunyi.

“Plung” pada lompatan terakhir, keduanya serentak mendarat di sebuah ember yang berisi susu segar dan segera mereka berenang ke tepi ember dan berusaha untuk naik keluar dari ember itu sambil sesekali melompat, tapi tidak berhasil.

“Oh kawan, habislah kita kali ini, ember aluminium ini sungguh sangat licin, rasanya tidak mungkin memanjatnya, habislah kita kali ini, kita tak bisa kemana-mana lagi, kita akan mati tenggelam disini” kata katak kedua.

“Teruslah berusaha, teruslah berenang, teruslah mendayung” kata katak pertama, pasti ada cara untuk bisa keluar dari tempat ini, ayo kita pikirkan, jangan menyerah. Mereka berduapun mendayung dan berenang kesana kemari sambil sesekali melompat berusaha melewati bibir ember.

Setelah sekian jam mereka mendayung katak kedua mulai mengeluh lagi:


“Ugh, saya sungguh lelah sekali, saya benar-benar kehabisan tenaga, susu ini kental sekali dan dan terlalu licin untuk keluar dari tempat ini.”


“Ayo, teruslah berusaha, jangan menyerah” kata katak pertama memberi semangat.

“Percuma saja, kita tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari tempat ini, kita pasti mati disini keluhnya makin lemah” dan gerakan katak kedua itu makin lama makin lambat dan akhirnya tidak bergerak lagi, mati.

Sementara itu katak pertama tidak putus asa, dengan sisa-sisa tenaganya masih berenang dan terus mengayunkan tangan dan kakinya sambil sesekali tetap membuat lompatan terus mencoba melewati ember yang mengurungnya.

Saat malam menjelang pagi udara terasa sangat dingin, lamat-lamat terdengar ayam berkokok dan tanpa disadari kaki-kaki katak kedua itu serasa mendapat pijakan. Katak itu sudah tidak mendayung lagi karena kakinya terasa berdiri diatas setumpuk mentega hasil karyanya semalaman.

Dan “Plop” katak itupun membuat lompatan terakhir untuk keluar dan bebas dari ember yang mengubur temannya.

Ketika anda berpikir anda ‘bisa’ atau ketika anda berpikir anda “tidak bisa”, maka ANDA BENAR !!


Jibril AS, Kerbau, Kelelawar, dan Cacing

0 komentar

Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibri AS untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si Kerbau.

Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, "hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau". Si kerbau menjawab, "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri". Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar.

Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar, "hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar". "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya", jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.

Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing, "Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing". Si cacing menjawab, " Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal sholih ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya".

SUBHANALLAH... Apakah kita lebih baik dari Makhluk Allah/Binatang??? Ato justru lebih HINA ??? Naudzubillah Wa nastaghfiruka ya Allah....

01 Mei 2010

Pedagang Dan Nelayan

0 komentar

Suatu hari, seorang pedagang kaya datang berlibur ke sebuah pulau yang masih asri. Saat merasa bosan, dia berjalan - jalan keluar dari villa tempat dia menginap dan menyusuri tepian pantai. Terlihat Di sebuah dinding karang seseorang sedang memancing, dia menghampiri sambil menyapa,

“Sedang memancing ya pak?”, sambil menoleh si nelayan menjawab,

“Benar tuan. Mancing satu-dua ikan untuk makan malam keluarga kami”.

“Kenapa cuma satu-dua ikan pak? Kan banyak ikan di laut ini, kalau bapak mau sedikit lebih lama duduk disini, tiga-empat ekor ikan pasti dapat kan?”

Kata si pedagang yang menilai si nelayan sebagai orang malas. “Apa gunanya buat saya ?” tanya si nelayan keheranan.

“Satu-dua ekor disantap keluarga bapak, sisanya kan bisa dijual. Hasil penjualan ikan bisa ditabung untuk membeli alat pancing lagi sehingga hasil pancingan bapak bisa lebih banyak lagi” katanya menggurui.

“Apa gunanya bagi saya?” tanya si nelayan semakin keheranan.

“Begini. Dengan uang tabungan yang lebih banyak, bapak bisa membeli jala. Bila hasil tangkapan ikan semakin banyak, uang yang dihasilkan juga lebih banyak, bapak bisa saja membeli sebuah perahu. Dari satu perahu bisa bertambah menjadi armada penangkapan ikan. Bapak bisa memiliki perusahaan sendiri. Suatu hari bapak akan menjadi seorang nelayan yang kaya raya”.

Nelayan yang sederhana itu memandang si turis dengan penuh tanda tanya dan kebingungan. Dia berpikir, laut dan tanah telah menyediakan banyak makanan bagi dia dan keluarganya, mengapa harus dihabiskan untuk mendapatkan uang? Mengapa dia ingin merampas kekayaan alam sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali. Sungguh tidak masuk diakal ide yang ditawarkan kepadanya.

Sebaliknya, merasa hebat dengan ide bisnisnya si pedagang kembali meyakinkan, “Kalau bapak mengikuti saran saya, bapak akan menjadi kaya dan bisa memiliki apa pun yang bapak mau”.

“Apa yang bisa saya lakukan bila saya memiliki banyak uang?” tanya si nelayan.

“Bapak bisa melakukan hal yg sama seperti saya lakukan, setiap tahun bisa belibur, mengunjungi pulau seperti ini, duduk di dinding pantai sambil memancing”.

“Lho, bukankan hal itu yang setiap hari saya lakukan tuan, kenapa harus menunggu berlibur baru memancing?”, kata si nelayan menggeleng-gelengka n kepalanya semakin heran.

Mendengar jawaban si nelayan, si pedagang seperti tersentak kesadarannya bahwa untuk menikmat memancing ternyata tidak harus menunggu kaya raya.

Pepatah mengatakan, jangan mengukur baju dengan badan orang lain. Si pedagang mungkin benar melalui analisa bisnisnya, dia merasa apa yang dilakukan oleh si nelayan terlalu sederhana, monoton dan tidak bermanfaat. Mengeruk kekayaan alam demi mendapatkan uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya adalah wajar baginya.

Sedangkan bagi si nelayan, dengan pikiran yang sederhana, mampu menerima apapun yang diberikan oleh alam dengan puas dan ikhlas. Sehingga hidup dijalani setiap hari dengan rasa syukur dan berbahagia.

Memang ukuran “bahagia”, masing-masing orang pastilah tidak sama. Semua kembali kepada keikhlasan dan cara kita mensyukuri, apapun yang kita miliki saat ini.

12 April 2010

" BARANGKALI "

0 komentar

Alkisah, seorang lelaki tua duduk bersama anaknya yang sudah berusia 25 tahun di sebuah kereta api yang sedang berjalan kencang. Nampak keceriaan dan kecemerlangan pada wajah pemuda yang duduk persis di samping jendela bersama ayahnya tersebut.

Pemuda itu mengeluarkan tangannya melalui jendela dan menggerak-gerakkannya seraya tersenyum merasakan segarnya udara di luar sambil berseru, "Ayah, lihatlah! Semua pohon-pohon itu berlarian membelakangi kita!" Sang ayah pun tersenyum mengiringi kebahagiaan anaknya.

Di samping mereka, duduk sepasang suami-istri yang tengah memperhatikan pembicaraan sang pemuda bersama ayahnya. Mereka nampak terganggu dan tidak nyaman. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang sudah berusia 25 tahun itu bertingkah seperti anak kecil!

Tiba-tiba, sang pemuda berseru lagi, "Ayah, lihatlah sawah yang penuh dengan barisan padi dan burung-burung kecil itu! Lihatlah, Ayah, awan menggumpal di atas kita yang indah itu!"

Sepasang suami-istri itu makin heran dan tak nyaman melihat kata-kata sang pemuda.

Lantas perlahan-lahan gerimis hujan pun mulai turun, dan titik demi titik air hujan membahasi tangan sang pemuda, yang wajahnya semakin cerah dipenuhi oleh semburan rata rasa senang bahagia. Ia bergumam kalem, dan tiba-tiba bersorak ramai, "Ayah, ini sangat indah! Ayah, ini hujan! Airnya membahasi tanganku. Lihatlah, Ayah!"

Di detik itu, pasangan suami-istri sudah tak sabar lagi. Mereka tak sanggup lagi berdiam diri melihat perbuatan sang pemuda. Mereka serentak menghardik ayah sang pemuda, "Mengapa kalian tidak membawa anak ini ke dokter supaya ia segera diobati?!"

... (berlanjut) --> lanjut terus ke bagian paling bawah.....








































































(lanjutan)

Sang ayah menjawab mereka dengan santun dan tetap tenang, "Kami baru saja datang dari rumah sakit, dan alhamdulillah anak saya ini sudah bisa melihat setelah sekian tahun lamanya ia buta semenjak lahir."

.

..

...

Sontak kedua suami-istri meminta maaf, "Kami telah berbuat salah. Seharusnya
kami tidak tergesa-gesa BERBURUK SANGKA."

Ahhh, betapa seringnya kita terlalu cepat menilai serta menghukumi sesuatu, padahal belum jelas perkara tersebut sehingga tidak jarang secara sadar maupun tidak kita telah mendzalimi orang lain melalui ucapan maupun sikap kita...
Kawan, mudah-mudahan melalui kisah diatas kita memperoleh pembelajaran ...
Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya dia adalah sedusta dustanya perkataan.

31 Maret 2010

Ibuku Seorang Pembohong ... ???

0 komentar

Sukar untuk orang lain percaya,tapi itulah yang terjadi, ibu
saya memang seorang pembohong!! Sepanjang ingatan saya
sekurang-kurangnya 8 kali ibu membohongi saya. Saya perlu catatkan
segala pembohongan itu untuk dijadikan renungan anda sekalian.
Cerita ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai seorang
anak lelaki dalam sebuah keluarga sederhana. Makan minum serba kekurangan.

-PEMBOHONGAN IBU YANG PERTAMA.
Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa
makan ikan asin satu keluarga. Sebagai anak yang
masih kecil, saya sering merengut. Saya menangis, ingin nasi dan
lauk yang banyak. Tapi ibu pintar berbohong. Ketika makan, ibu sering
membagikan nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke
mangkuk saya, ibu berkata : ""Makanlah nak ibu tak lapar."

- PEMBOHONGAN IBU YANG KEDUA.
Ketika saya mulai besar, ibu yang gigih sering meluangkan waktu
senggangnya untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah. Ibu
berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami. Pulang dari memancing, ibu memasak ikan segar yang mengundang selera. Sewaktu saya memakan ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi.

Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yg belum saya makan kepada ibu. Tetapi ibu dengan
cepat menolaknya. Ibu berkata : "Makanlah nak, ibu tak suka makan
ikan."

- PEMBOHONGAN IBU YANG KETIGA.
Di awal remaja, saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue
untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang. Suatu saat,
pada dinihari lebih kurang pukul 1.30 pagi saya terjaga dari tidur. Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin di hadapannya. Beberapa kali saya melihat kepala ibu terangguk karena ngantuk. Saya berkata : "Ibu, tidurlah, esok pagi ibu kan pergi ke kebun pula." Ibu tersenyum dan berkata : "Cepatlah tidur nak, ibu belum ngantuk."

- PEMBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT.
Di akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti biasa supaya dapat menemani saya pergi ke sekolah untuk turut menyemangati. Ketika hari sudah siang, terik panas matahari mulai menyinari, ibu terus sabar menunggu saya di luar. Ibu seringkali saja tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada Illahi agar saya lulus ujian dengan cemerlang. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan
kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya. Kopi yang kental
itu tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih
kental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera memberikan
cawan saya itu kepada ibu dan menyuruhnya minum. Tapi ibu cepat-cepat
menolaknya dan berkata : "Minumlah nak, ibu tak haus!!"

- PEMBOHONGAN IBU YANG KELIMA.
Setelah ayah meninggal karena sakit, selepas saya baru beberapa
bulan dilahirkan, ibulah yang mengambil tugas sebagai ayah kepada kami
sekeluarga. Ibu bekerja memetik cengkeh di kebun, membuat sapu lidi
dan menjual kue-kue agar kami tidak kelaparan. Tapi apalah daya seorang ibu. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah.
Melihat keadaan keluarga yang semakin parah, seorang tetangga yang baik hati dan tinggal bersebelahan dengan kami, datang untuk membantu ibu. Anehnya, ibu menolak bantuan itu... Para tetangga sering kali menasihati ibu supaya menikah lagi agar ada seorang lelaki yang menjaga dan mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga.. Tetapi ibu yang keras hatinya tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata : "Saya tidak perlu cinta dan saya tidak perlu laki-laki."

- PEMBOHONGAN IBU YANG KEENAM.
Setelah kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudah tua. Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak lagi bersusah payah untuk mencari uang.
Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela pergi ke pasar setiap pagi menjual
sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakak dan abang yang
bekerja jauh di kota besar sering mengirimkan uang untuk membantu
memenuhi keperluan ibu, pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau
menerima uang tersebut. Malah ibu mengirim balik uang itu, dan ibu
berkata : "Jangan susah-susah, ibu ada uang."

- PEMBOHONGAN IBU YANG KETUJUH.
Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan lagi untuk mengejar gelar sarjana di luar Negeri. Kebutuhan saya di sana dibiayai
sepenuhnya oleh sebuah perusahaan besar. Gelar sarjana itu saya sudahi
dengan cemerlang, kemudian saya pun bekerja dengan perusahaan yang telah membiayai sekolah saya di luar negeri. Dengan gaji yang agak lumayan.
Saya berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya
bersama saya di luar negara. Menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, pantaslah kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan pula. Tetapi ibu yang baik hati, menolak ajakan saya. Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata ; "Tak usahlah nak, ibu tak bisa tinggal di negara orang."

- PEMBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerima
berita ibu diserang penyakit kanker di leher, yang akarnya telah menjalar kemana-mana. Ibu mesti dioperasi secepat mungkin. Saya yang ketika itu berada jauh diseberang samudera segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah sakit, setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap wajah saya dengan penuh kerinduan. Ibu menghadiahkan saya sebuah senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya. Saya dapat melihat dengan jelas betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu, sehingga ibu menjadi terlalu lemah dan kurus. Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan air mata. Saya cium tangan ibu kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya. Di saat itu hati saya terlalu pedih, sakit sekali melihat ibu dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu tetap
tersenyum dan berkata : "Jangan menangis nak, ibu tak sakit."

Setelah mengucapkan pembohongan yang kedelapan itu, ibunda tercinta menutup matanya untuk terakhir kali. Dibalik kebohongannya, tersimpan cintanya yang begitu besar bagi anak2nya.

Bagi anda yang masih beruntung karena masih mempunyai orangtua... Anda boleh memeluk
dan menciumnya. Kalau orangtua anda jauh dari mata, anda boleh menelponnya sekarang, dan berkata, 'Ibu/Ayah, saya sayang ibu/ayah.'
Karena jika tidak, anda mungkin akan diburu rasa bersalah yang amat sangat karena biarpun anda mengasihi ibu lebih dari segala-galanya, tapi tidak pernah sekalipun anda membisikkan kata-kata itu ke telinga ibu, sampailah saat ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir.... Maka sia-sialah penyesalan anda ...

Maka kini... Katakanlah... Ibu, maafkan saya. Saya sayang ibu.......

12 Desember 2009

Dilarang berkata : ”Allah Tidak Akan Mengampunimu”

0 komentar

Tugas seorang muslim adalah menganjurkan perbuatan ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar. Demikianlah Allah gambarkan ciri kaum muslimin. Bahkan ciri ini telah menyebabkan Allah memberikan sebutan begitu istimewa kepada ummat Islam. Allah menamakan ummat Islam sebagai Ummat Terbaik yang disajikan untuk segenap ummat manusia.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ

بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran ayat 110)

Aktifitas amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan bagian integral dari kegiatan menyeru manusia ke jalan Allah atau Da’wah Islamiyyah. Kegiatan ini menuntut hadirnya kegairahan dan emosi positif pada diri pelakunya. Tanpa adanya kegairahan maka seorang muslim tidak akan mau meluruskan penyimpangan saudaranya. Tanpa gairah mana mungkin seseorang akan tergerak untuk menyadarkan orang lain agar meninggalkan perbuatan mungkar yang biasa dia kerjakan. Tanpa gairah mana mungkin seseorang akan punya motivasi untuk mendorong saudaranya mengerjakan perbuatan ma’ruf sesuai anjuran Islam. Namun perlu diingat bahwa bilamana emosi yang melandasi suatu tindakan da’wah bukanlah emosi positif namun sebaliknya malah emosi negatif, maka kegiatan yang asalnya merupakan suatu kebaikan bisa mendatangkan bencana. Bahkan bencana bagi pelaku da’wah itu sendiri.

Yang dimaksudkan dengan emosi positif ialah perasaan yang membara namun tetap terkendali dalam batas-batas yang dibenarkan oleh ajaran Islam. Sedangkan emosi negatif ialah perasaan yang berlebihan sehingga menyebabkan aktifis da’wah melampaui batas yang dibenarkan Islam tatkala ia sedang menasehati saudaranya.

Salah satu bentuk tindakan melampaui batas ialah seperti memandang dirinya berhak menentukan siapa yang bakal diampuni Allah dan siapa yang tidak. Ia lupa bahwa hak mengampuni manusia sepenuhnya berada di tangan Allah Yang Maha Pengampun. Seorang da’i berhak memberitahu saudaranya yang terlibat kemaksiatan untuk menghentikan perbuatannya melanggar aturan Islam, namun ia tidak perlu dan tidak dibenarkan untuk mengancam si pelaku maksiat bahwa kemksiatannya tidak bakal diampuni Allah. Allah sangat sanggup dan berkuasa penuh untuk mengampuni siapa saja yang dikehendakiNya. Perhatikan hadits berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَ

أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ

مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي

قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ أَوْ كَمَا قَالَ

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: Ada seorang lelaki yang berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Allah berfirman: ”Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapuskan amalmu.” (Hadits shahih riwayat Muslim).

Bahkan dalam hadits lainnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan peristiwa yang pernah terjadi pada Bani Israil. Suatu ketika ada abang-beradik dari Bani Israil. Salah seorang diantara keduanya sering berbuat dosa sedangkan yang lainnya rajin beribadah. Maka setiap kali si pelaku dosa melakukan maksiatnya, maka si ’abid selalu mencegahnya, namun si pelaku dosa terus saja mengulangi perbuatan dosanya. Hingga pada suatu hari ketika si pelaku dosa berbuat maksiat di hadapan saudaranya, maka kali itu ia tidak saja mencegah perbuatan dosa saudaranya. Si ’abid mengucapkan kalimat yang melampaui batas dimana ia sampai tega mengatakan bahwa saudaranya tidak bakal diampuni Allah dan bahkan tidak akan masuk surga. Maka apa yang akhirnya terjadi pada kedua abang-beradik ini? Marilah ikuti jalan ceritanya dengan langsung membaca haditsnya di bawah ini:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَقُولُ كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ مُتَوَاخِيَيْنِ

فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالْآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ

فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ

فَيَقُولُ أَقْصِرْ فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ أَقْصِرْ

فَقَالَ خَلِّنِي وَرَبِّي أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيبًا فَقَالَ

وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ

فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ

فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ أَكُنْتَ بِي عَالِمًا

أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ

اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَقَالَ لِلْآخَرِ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ

Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Ada dua orang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang saling bersaudara. Yang satu rajin ibadah dan lainnya berbuat dosa. Lelaki yang rajin beribadah selalu berkata kepada saudaranya, ‘Hentikan perbuatan dosamu!” Suatu hari ia melihat saudaranya berbuat dosa dan ia berkata lagi, ‘Hentikan perbuatan dosamu!” “Biarkan antara aku dan Tuhanku. Apakah kamu diutus untuk mengawasiku?” jawabnya. Ia berkata lagi, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu” atau “Dia tidak akan memasukanmu ke surga.” Kemudian Allah mengutus malaikat kepada keduanya untuk mengambil ruh keduanya hingga berkumpul di sisi-Nya. Allah berkata kepada orang yang berdosa itu, “Masuklah kamu ke surga berkat rahmat-Ku.” Lalu Allah bertanya kepada lelaki yang rajin beribadah, “Apakah kamu mampu menghalangi antara hamba-Ku dan rahmat-Ku?” Dia menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku.” Allah berfirman untuk yang rajin beribadah (kepada para malaikat): “Bawalah dia masuk ke dalam neraka.” Abu Hurairah – semoga Allah meridhainya – berkomentar, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia berkata dengan satu kalimat yang membinasakan dunia dan akhiratnya.”(HR Abu Dawud).

Ya Allah, tanamkanlah selalu kegairahan dalam diri kami untuk berda’wah di jalanMu. Namun hindarknalah kami dari berlaku melampaui batas ketika sedang berda’wah sehingga menghilangkan sifat rendah hati kami. Ya Allah, hindarkanlah kami dari mengucapkan sesuatu yang dapat membinasakan dunia dan akhirat kami. Amin ya Rabb.

24 September 2009

Lee Si Pencari Kebenaran

0 komentar

Kehadirannya malam itu mengagetkan jamaah masjid Okayama. Lee begitu biasanya ia dipanggil, seorang wanita warga negara China yang merantau di negri sakura. Jarum jam menunjukkan angka dua belas saat ia mendatangi jamaah masjid yang sedang bertakbiran. Matanya sembab kemerahan. Nampak ia mengalami pergulatan bathin yang cukup dasyat malam itu. “Watashi ha sha….sha…hadah shitain…..,”katanya memohon sambil terisak. Kontan jamaah masjid dibuat terkaget-kaget dengan ucapannya.”Ashita oinori shitain…,”katanya masih terisak. Malam ini saya harus bershahadat, pintanya.

Untuk warga muslim di Okayama, sosoknya tentu tak asing lagi. Ia seorang penjaga kedai makanan halal, yang letaknya tak jauh dari masjid. Kedai ini milik seorang muslim Bangladesh. Kesan awal ia orang yang tak banyak bicara. Dari kedai inilah ketertarikannya berawal. Ia perhatikan setiap pengunjung kedai tersebut. Ia terkagum dengan keanekaragaman bangsa yang datang ke kedai tersebut. Ada yang berkulit hitam, berkulit putih, berambut pirang atau bermata sipit, tak luput dari pengamatannya. Dan satu hal yang disenanginya….mereka semuanya ramah padanya.

Interaksi dengan komunitas muslim terjalan saat menjaga kedai. Ajakan mengikuti kegiatan ifthar bersama di masjid, disambut dengan semangat. Ia mengikuti semua aktivitas ini dengan suka cita. Kecuali saat shalat, ia duduk di pojokan shaf wanita dan …menjadi pengamat setia. Amboiiiii, gerakan orang yang sholat dengan khidmat, sungguh membangkitkan keingin tahuannya. Ia tertarik dengan agama satu ini. Maka aktivitas menjaga kedai disambi dengan browsing internet tentang islam. Islam itu seperti apa sih sebetulnya, tanyanya dalam hati.

Islam bukan teroris, desisnya saat ia membaca artikel yang menjelekkan islam. Ia melihat langsung kehangatan para muslim/muslimah saat ia bergabung di acara ifthar. Kesempatan baikpun digunakan untuk bertanya atau diskusi dengan pengunjung kedai. Beberapa kali aku melihat ia tengah berbicara serius dengan brother atau sister dari berbagai negara.Ia pun pernah bertanya tentang jilbab yang kukenakan, saat aku berbelanja ke kedai tersebut. “Suteki ne...,”katanya tulus memuji padu padan baju dan jilbabku. Aku tersenyum sambil berharap semoga Allah melimpahkan hidayah untuknya. Dan… harapan itu menjadi kenyataan.

Khadijah, itulah nama hijrah untuknya. Nama itu dipilihkan oleh brother dari Mesir yang memandunya bershahadah. Idul Fitri tahun ini, menjadi Idul Fitri teristimewa buatnya maupun muslim di Okayama. Ia datang ke lokasi sholai Ied dengan baju muslim berwarna ungu, senada dengan jilbabnya. Cantik dan kontras dengan wajah putihnya. Selepas sholat ied, pengurus masjid memberitakan kabar gembira tentang Lee. Para sister dari berbagai negara berebut menyalami dan memeluknya. Ia menangis bahagia.

Kini ia menjadi salah seorang jamaah masjid yang rajin. Shalat shubuh berjamaah yang biasanya tanpa ma’mum wanita, kini dihadiri oleh seorang muslimah, Khadijah. Ia pun makin rajin membaca artikel tentang islam, begitu laporan pemilik kedai halal. Ajaklah muslimah yang lain untuk sering bermain ke kedai dan mengajari Khadijah tentang islam, pinta pemilik kedai saat aku berbelanja disana.

Saat menyaksikan Khadijah dikerumuni para sister, aku teringat taushiyah seorang brother dari Mesir. Kita yang muslim semenjak lahir, terkadang kurang mensyukuri nikmat islam yang telah dikaruniakan Allah. Tapi, orang seperti Lee, ia mencari kebenaran hakiki ajaran islam dan berani mengambil keputusan penting untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. Ia memilih islam sebagai lentera kehidupannya. Walau masih terbata-bata dan kepayahan mengeja keagungan nikmat islam, ia mantap dengan keputusannya.

”Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) islam.....” (Al-An’aam:125)

Sungguh dari sosok Lee, aku makin bersyukur nikmat terbesar Allah yang bernama Islam. Islam adalah anugrah Allah, Tuhan pencipta langit dan bumi dengan segala isinya. Tiada yang lebih indah selain menerima anugrah besar dari dari Yang Maha Kuasa. Namun keindahan dan kelezatan nikmat islam, tidak didapat begitu saja, jika tidak mengamalkan islam secara menyeluruh (kaffah). Ya Allah, semoga kami menjadi hamba yang istiqomah menjaga nikmat terbesar-Mu, yaitu islam.***

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Taqaballahu minna wa minkum.

Okayama, 6 Syawal 1430 H

Catatan:

1.Watashi ha shahadah shitain=saya ingin (mengucapkan) shahadat

2.Ashita oinori shitain=besok (saya) ingin sholat

3. Suteki ne= bagus ya

oleh Ani Bowolaksono

17 September 2009

Selamat Idul Fitri 1430 H

0 komentar








Seiring Gema Takbir bergema,.... ...

Senikmat Ketupat sayur dan opornya,.... .

Sesaat Hati ini memohon Ridho dan Maaf,...
Atas Semua dosa dan khilaf,...
Dan sekedar berucap,...


TAQABALALLAH MINNA WA MINKUM
Minal 'Aidin Wal Faizin,...

Mohon Maaf Lahir dan Bathin,...


Semoga Allah SWT Menerima Ibadah Puasa kita tahun ini,...
Dan Memberikan kemulyaan fitri untuk kita,....

Atas Nama

PUTRA2000



28 Agustus 2009

Jangan Taqlid

0 komentar

Ba'da sholat zuhur berjamaah di masjid jami', Ujang merasa kehausan. Kakinya lantas melangkah ke warung Mpok Ruqayah. Ujang memesan es kelapa muda.

Pada saat yang bersamaan, seorang anak muda yang berjenggot tipis dan memakai celana cungkring (sekitar 10-15 senti di atas mata kaki) duduk disamping Ujang. Sambil tersenyum pada Ujang, anak muda yang bernama Jundi ini bertanya kepada Ujang, "Tadi malam akhi Ujang ikutan ratiban di kediaman Haji Yunus yah?"

"Iyah alhamdulillah saya ikutan bareng-bareng baca Ratib al-Haddad bersama Wak Haji", jawab Ujang sebelum menyeruput es kelapa muda.

"Apa akhi Ujang tahu apa dalilnya ikut ratiban semacam itu?" Jundi bertanya sambil tersenyum.

"wah itu sih urusan Wak Haji...kata beliau ratiban ini kumpulan doa yang tentu saja ada dalilnya. Lha dalilnya itu apa dan bagaimana yah...tolong aja kang Jundi tanya langsung sama Wak haji Yunus". Ujang nyerocos sambil tangannya mencomot pisang goreng di depannya.

"Itu namanya taqlid alias fanatisme buta. Agama melarang kita untuk taqlid semacam itu. Bukankah Pak Yunus itu manusia biasa yang bisa salah dan khilaf. Kok akhi Ujang mau saja ikut-ikutan sama beliau. Itu namanya menyembah Pak Yunus. Haram itu hukumnya!" suara Jundi mulai meninggi.

"wah...udara udah panas begini, kang Jundi kok malah bikin saya jadi gerah nih." Ujang mengipas-ngipaskan pecinya ke arah tubuhnya.

"bukan begitu akhi...saya sekedar mengingatkan saja. Rasulullah SAW telah bersabda, 'Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu: Kitabullah dan Sunnahku'. Jadi segala persoalan harus berdasarkan kepada Qur'an dan Sunnah. Nggak boleh hanya kata kiyai anu atau ulama sana atau cuma kata Pak Yunus."

"bentar kang...." Ujang merubah posisi kakinya sambil kemudian mengangkat sedikit kain sarungnya. Ujang terus meneruskan, "Hadis yang tadi kang Ujang baca itu shahih atau dha'if?"

"Hadis-nya shahih ya akhi Ujang" jawab Jundi sambil memegang jenggotnya.

"O, ya? Akang tahu dari mana kalau itu hadisnya shahih?"

"Dari Syekh al-Albany. Beliau ini ulama besar...dalam kitab Silsilah Al-Hadits As-Shahihah, beliau bilang hadis ini shahih." Jundi lantas membuka catatannya. "Ya betul akhi...ini disebutkan dalam buku Syekh al-Albany juz 4, halaman 330"

Sambil membetulkan peci hitam yg sudah lusuh, Ujang bertanya lagi:

"sudah akang periksa argumennya al-Albany sampai beliau bilang hadis ini shahih? Misalnya dicek ulang gitu semua argumen beliau"

"Belum. Tapi Syekh al-Albany menyebutkan sumber-sumber rujukannya kok"

"Terus darimana akang bisa yakin kalau yang dilakukan Syekh al-Albany dalam mengatakan Hadis ini shahih itu benar?"

"Lho al-Albany kan ahli hadis, dia punya kualifikasi untuk itu,
masak dia bohong?" suara Jundi mulai meninggi. Dalam hatinya dia bilang, "ini orang kok ngeyel banget sih. Susah banget menerima sebuah kebenaran!"

"Ehmm...akang sudah taqlid dong sama Syekh al-Albany. Yang akang lakukan sama saja dengan kawan-kawan saya tadi malam yang mengikuti Wak Haji Yunus utk ratiban bareng tanpa mengkaji terlebih dahulu dalil dan argumen wak Haji Yunus. Kami melakukannya karena "percaya"
bahwa wak Haji Yunus itu ahli dalam bidangnya"

Sambil nyengir meniru gaya film james Bond yang ditontonnya saat layar tancep, Ujang meneruskan:

"Sama saja dengan saya kalau sakit pergi ke dokter. Apa yang dikatakan dokter saya percaya. Disuruh minum obat A atau B saya ikuti. Soalnya saya "percaya" akan otoritas dokter tsb. Saya nggak mau bilang begini, 'Maaf dokter, saya butuh waktu untuk menguji apakah obat yg anda kasih itu benar atau tidak, saya harus cek dulu argumentasi anda utk mengatakan penyakit saya ini A dan bukan penyakit B"

Muka Jundi langsung memerah. Dia tidak menyangka Ujang yang sarung dan pecinya sudah lusuh dan wajahnya ndeso banget itu dengan telak menohok argumentasi Jundi.

Mpok Ruqayah, yang dari tadi cuma mendengarkan sambil menggoreng pisang, tiba-tiba ikutan nimbrung.

"Perasaan ane hadis yang tadi bang Jundi bacakan ada versi lainnya deh. Dulu Wak haji Yunus udah pernah menjelaskan saat ane ikutan pengajian di rumahnya"

"Enggak ada Mpok...hadisnya ya cuma ini. kalau ada versi lain, ya itu dha'if" jawab Jundi sambil membolak-balik buku catatannya.

"ah urusan dha'if apa kagak itu sih urusan orang sekolahan...bukan urusan ane...urusan ane sih dagang aja" Mpok Ruqayah tertawa sambil membetulkan posisi sendal jepitnya.

"Iya nih akang masih doyan aja sembarangan mendha'ifkan hadis"

"Soalnya kata murabbi saya begitu akhi"

"Tuh kan...ente taqlid lagi" Ujang kembali nyengir.

"Bukan...ini bukan taqlid. Ini namanya tsiqah pada qiyadah"

"ya sama aja dong...intinya kan tunduk dan patuh serta percaya pada pemimpin dan panutan kita. Saya taqlid sama Wak haji Yunus. Akang Jundi tsiqah sama murabbi. Intinya kan sama aja. Artinya sama-sama baik. Karena Wak Haji Yunus orang baik, dan Murabbi akang juga orang baik. Begitu kang..."

Di saat itu datanglah Haji Yunus sambil mengucapkan salam. Ujang dan Mpok Ruqayah lantas menceritakan dialog dengan Jundi tersebut. Jundi yang duduknya menjadi gelisah, ditepuk-tepuk bahunya oleh Haji Yunus. "Bagus...bagus...inilah pemuda harapan kita. Selalu bersemangat dalam menjalankan Din Allah ini"

"Nak Jundi kuliah dimana? tanya Haji Yunus dengan lembut.

"Di Universitas Prabu Siliwangi, jurusan akunting. Saya lagi buat skripsi Pak Yunus"

"Oh bagus...bagus...apa saat menulis skripsi itu Nak Jundi mencantumkan footnote yang isinya pendapat para pakar dan juga mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pembimbing skripsi?"

"Tentu saja Pak. Dunia akademik memang seperti itu"

"Mungkin Nak Jundi belum tahu, ttulah tradisi ilmiah dalam Islam yang diadopsi oleh dunia intelektual modern saat ini. Tradisi merefer dan merujuk itu bisa dilacak dalam khazanah Islam." Haji Yunus menjelaskan sambil memberi kode kepada Mpok Ruqayah utk membuatkan kopi.

"Wah jangan-jangan akang Jundi ini taqlid juga sama pembimbing dan para pakar yg dicantumkan dalam footnote skripsinya nih" Ujang nyeletuk sambil megang perutnya yang buncit.

Jundi tersenyum masam.

Haji Yunus melotot pada Ujang, tanda beliau kurang suka dengan Ujang yang menggoda Jundi. Lalu beliau menoleh kembali pada Jundi:

"Tadi hadis yang dibacakan oleh Nak Jundi itu bagaimana bunyinya dan bagaimana terjemahnya?" tanya Haji Yunus.

"Maaf Pak Yunus...saya hanya mencatat dari kumpulan materi pengajian. Kebetulan hadisnya ini sudah diterjemahkan."

Ujang nyeletuk lagi:

"itu namanya akang bukan kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah...tapi kembali ke terjemahan al-Qur'an dan terjemahan Sunnah. Lha yang nerjemahin itu siapa? Kok akang percaya saja sama terjemahannya. Itu namanya akang taqlid sama terjemahan tersebut. Terjemahan Qur'an dan Hadis kan banyak macamnya. Cari aja di-google. Otong yang kawan saya aja bisa. Betul kan Wak Haji?"

Muka Jundi memerah kembali.

"Iya betul", kata Haji Yunus, "tapi kamu jangan biasakan memojokkan saudara sendiri seperti itu. Kita semua kan sama-sama belajar." tegur Haji Yunus.

"Maaf Wak Haji..." Ujang menundukkan pandangan matanya, sebagai tanda ia menerima teguran Haji Yunus. Lantas mata ujang melirik ke lantai. Tiba-tiba ia berseru panik.

"Lho Mpok Ruqayah...kok sendal saya hilang. Tadi kan masih di sini." Ujang celingukan mencari sendal jepitnya.

"wah jangan-jangan sendal jepit saya hilang akibat adanya konspirasi Yahudi dan CIA untuk mencuri harta ummat Islam nih...." Ujang nyerocos sambil garuk-garuk kepala.

Mpok Ruqayah langsung nyengir...."masak Yahudi sama CIA ngurusin sendal jepit kamu yang jelek itu...Ujang...ujang...ada-ada aja sih!"

Haji Yunus pura-pura tidak mendengar dan memilih untuk menikmati kopinya. Jundi masih tersenyum kecut sambil melirik catatan pengajian yang berjudul, "ghazwul fikri antara yahudi-barat versus ummat Islam" (Sumber)

31 Juli 2009

Tersenyumlah …

0 komentar

Tertawa sewajarnya merupakan obat kecemasan dan pelipur kesedihan. Dalam senyum terdapat kekuatan yang menakjubkan dalam menggembirakan jiwa dan menyenangkan hati, sehingga Abu darda berkata: “Sesungguhnya aku akan tertawa hingga hatiku akan terhibur.” Tertawa merupakan puncak keceriaan, kelegaan dan keriangan, asalkan tidak berlebihan, dengan sewajarnya, dan tidak di maksudkan mengejek atau mencemooh: “Jangan terlalu banyak tertawa, karena terlalu banyak tertawa akan mematikan hati.”

Hakikatnya, Islam adalah agama yang dibangun atas dasar keseimbangan dan keadilan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak, maupun tingkah laku. Oleh karena itu, janganlah anda masamkan raut muka anda sehingga menakutkan orang yang melihat. Jangan pula anda tertawa terbahak – bahak. Akan tetapi, tampilkanlah wajah yang tenang, selalu berseri dan enak dipandang, sehingga menyenangkan orang yang memandang.

Kalau kita diminta memilih antara harta yang banyak atau jabatan terhormat dan jiwa yang tenang penuh keceriaan, tentu anda akan memilih yang kedua. Apa artinya harta jika jiwa penuh kemuraman? Apa artinya pangkat dan jabatan jika jiwa terkekang? Apa artinya kecantikan istri bila ia selalu cemberut dan menjadikan suasana rumah seperti neraka? Sungguh lebih baik seribu kali lipat istri yang tidak terlalu cantik tetapi mampu menciptakan suasana rumah seperti surga.

Senyum yang tampak secara lahir tidak akan bernilai bila muncul dengan pura – pura dan untuk menutupi seseorang yang berperangai menyimpang. Lihatlah bunga juga tersenyum; hutan tersenyum; dan lautan, sungai, langit, bintang, burung, semuanya tersenyum. Senyum mereka itulah senyum yang tulus.

Jiwa yang senantiasa tersenyum akan melihat kesulitan dengan nyaman sambil berusaha mengatasinya. Jika mereka melihat sebuah persoalan, mereka tersenyum dan tetap tersenyum ketika mampu mengatasinya. Sebaliknya, jiwa yang muram akan melihat kesulitan dengan kesedihan. Bila menemui kesulitan, ia akan meghindar atau membesar-besarkannya, semangatnya melemah dan berandai andai dengan kata-kata “kalau”, “bila”, dan “jika”.

Betapa kita amat membutuhkan senyuman, keceriaan wajah, kelapangan dada, kemurahan hati, kelemahlembutan, dan keramahan. “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewahyukan kepadaku (Rasululloh Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam) agar kalian bersikap tawadhu’ hingga tidak ada seorang pun yang berbuat zhalim terhadap orang lain.”

Pada dasarnya, semua orang bisa tersenyum, namun kadangkala karena ketidakseimbangan baik fisik apalagi mental membuat sebagian orang sulit untuk tersenyum. Dalam ajaran Islam, bahkan tersenyum dianggap sebagai suatu ibadah, Rasulullah saw bersabda, "Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah," (HR Muslim).

Tersenyumlah, dan duniapun akan tersenyum bersamamu...



26 Juli 2009

Penyebab Rusaknya Hati

0 komentar

HASAN BASRI berkata bahwa penyebab rusak nya hati manusia itu di sebab kan oleh 6 hal,yaitu

1.Mereka berbuat dosa disertai harapan dosa nya akan di ampuni.

2.Mereka memiliki ilmu ,tapi tidak mengamalkan nya.

3.Apabila beramal tidak ikhlas.

4.Mereka memakan rejeki Allah tapi tidak bersyukur.

5.Mereka tidak ridho dengan pemberian Allah.

6.Mereka suka mengubur orang orang mati di antara mereka,tapi tidak mengambil pelajaran.


23 Juli 2009

Anta Ma’a Man Ahbabta

0 komentar

Pada suatu hari, salah seorang pengikut Nabi Isa as berdakwah di sebuah kota kecil. Orang-orang memintanya untuk melakukan mukjizat; menghidupkan orang mati, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Isa.

Pergilah mereka ke pemakaman dan berhenti di sebuah kuburan. Santri Nabi Isa itu lalu berdoa kepada Tuhan agar mayat dalam kuburan tersebut dihidupkan kembali. Mayat itu bangkit dari kuburnya, melihat ke sekeliling, dan berteriak-teriak, ?Keledaiku! Mana keledaiku?? Ternyata semasa hidupnya, orang itu sangat miskin dan harta satu-satunya yang paling ia cintai adalah keledainya.

Santri Nabi Isa itu lalu berkata kepada orang-orang yang menyertainya, Engkau pun kelak seperti itu. Apa yang kau cintai akan menentukan apa yang akan terjadi denganmu saat engkau dibangkitkan. Anta ma’a man ahbabta. Di hari akhir nanti, engkau akan bersama dengan yang kaucintai.

Pertanyaannya, siapakah orang yang paling kau cintai saat ini? suamimu,Istrimu,anakmu,ayahmu,ibumu,kakekmu,pacarmu. Wah Kalau itu sih biasa. Atau yg dicintai, diteriaki dengan histeris sampai menangis-nangis adalah vokalis band dari grup band ternama, artis sinetron, bintang film hollywood atau syahrukh khan??? wah kalo itu bahaya.

Yang luar biasa adalah ketika yang dicintai adalah Allah & Rasul-Nya... Betapa ketika hidup begitu merindukan untuk dapat melihat ke agungan wajah-Nya,kelak, wajah keridlaan-Nya....Begitu pula kecintaan serta kerinduan kita kepada Sayyidina Wa Nabiyuna Wa Maulana Muhammad SAW, sehingga ketika dibangunkan kita berteriak ALLAH...ALLAH... Duhai yang menjadi tujuanku...Duhai yang kuharapkan Rahmat-Nya...bertanya pula kita, dimanakah engkau ya Rasulullah, dimanakah wajah agungmu ya Rasulullah, dimanakah yang kuharapkan Rahmat_Nya melalui syafaatmu ya Rasulullah, dan dimanakah wajah yang ketika sakaratul mautnya memikirkan dan mencintai umatnya, ummati, ummati, ummati. Betapa beruntungnya orang yang mengagungkan Allah & Rasul-Nya dan menjadikan hal itu sebagai puncak tujuan hidupnya, semoga bisa berusaha menempuhnya.


Asyhadu alla illahaillallah... Wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah

Allahumma shalli 'alaa Muhammad, wa 'alaa ali Muhammad



22 Juli 2009

Seorang Mukmin Adalah Cermin Bagi Mukmin Lainnya

0 komentar

Saudaraku,

Ketahuilah, sesungguhnya kekasih kita Rasulullah saw telah diberi Jawaami'ul kalim*). Setiap kata yang diucapkan oleh Rasulullah saw sarat dengan makna dan memiliki banyak pemahaman. Setiap orang memahami ucapan beliau saw sesuai dengan pemahaman dan cahaya yang diberikan Allah kepadanya.

Rasulullah saw bersabda:

"Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya." (HR. Abu Dawud)

Hadist di atas memiliki beberapa makna, diantaranya adalah:

  • Pertama, Jika seorang mukmin melihat berbagai akhlak mulia pada diri saudaranya, maka dia akan meneladaninya. Dan jika dia melihat berbagai sifat tercela dalam diri saudaranya, dan dia mengetahui bahwa dirinya memiliki keburukan yang sama, maka dia segera berusaha membersihkan dan menyingkirkan sifat-sifat tercela itu dari dirinya.

  • Kedua, ketika seorang mukmin melihat sebuah sifat tercela pada diri saudaranya, maka dia segera memerintahkan dan meminta saudaranya itu untuk menghilangkannya. Dia menjadi cermin bagi saudaranya. Berkat nasehatnya, saudaranya dapat melihat aibnya sendiri, seperti cermin yang menampakkan keburukan wajah seseorang.

  • Ketiga, Seorang mukmin akan memandang kaum mukminin sesuai dengan keadaan hatinya. Jika hatinya baik, suci, jujur dan bersih dari berbagai sifat tercela, maka dalam pandangannya semua mukmin adalah baik. Dia berprasangka baik kepada seluruh mukmin dan sama sekali tidak akan berpikiran buruk kepada mereka. Kau akan melihat dia mudah tertipu oleh setiap orang yang berusaha menipunya dan membenarkan semua ucapan yang disampaikan kepadanya. Sebab, dalam pandangannya semua orang berakhlak mulia seperti dirinya. Ini adalah sebuah sifat mulia dan utama yang diberikan Allah kepada banyak mukmin.

Tetapi, yang lebih baik dan sempurna adalah seseorang yang mampu melihat sesuatu sebagaimana adanya, baik ataupun buruk, saleh ataupun fasik.

Oleh: Habib Abdullah bin Husein bin Thohir

*) Jawaami'ul kalim : Kalimat yang singkat tapi sarat dengan makna


Tobatnya, Shahabat Anshar yang Melihat Wanita Mandi

0 komentar

Betapa generasi shalafus shalih telah melahirkan orang-orang yang terbaik di zamannya, yang sangat sulit akan ditemukan di zaman ini. Seperti diriwayatkan dari jabir bin Abdullah al Anshari radhiyallahu anhu: “Ada seorang pemuda Anshar masuk Islam, bernama Tsa’labah bin Abdurrahman”, ucapnya. Pemuda itu sangat senang dapat melayani Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Suatu ketika Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk suatu keperluan, maka pemuda itu melewati sebuah pintu rumah lelaki Anshar, dan pemuda itu melihat seorang wanita Anshar sedang mandi. Lalu, pemuda yang bernama Tsa’labah itu, takut kalau Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan memberitahukan tentang perbuatannya, maka ia pun lari sekencang-kencangnya menuju gunung-gunung yang ada antara Mekah dan Madinah untuk bersembunyi.

Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, kehilangan Tsa’labah selama empat puluh hari, maka turunlah Jibril alaihis sallam kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan mengatakan, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu mengirimkan salam dan berfirman kepadamu , “Sesungguhnya ada seorang lekaki dari umatmu telah berada di gunung-gunung ini memohon perlindungan kepada-Ku”.

Maka, Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda, “Wahai Umar dan Salman carilah Tsa’labah bin Abdurrahman dan bawalah ia kepadaku”. Selanjutnya, Umar bersama dengan Salman berjalan keluar dari jalan-jalan Madinah, dan bertemu dengan seorang pengembala di Madinah bernama Dzufafah, dan Umar bertanya kepadanya, “Apakah kamu tahu seorang pemuda yang berada di gunung ini, namnya Tsa’labah?”. Dzufafah menjawab, “Barangkali maksudmu adalah lelaki yang lari dari neraka jahanam?”. Umar bertanya, “Apakah yang kamu maksudkan bahwa ia lari dari neraka jahanam?”.

Dzufafah menjawab, “Karena, jika di waktu malam telah tiba, maka ia datang kepada kami dari tengah gunung-gunung ini dengan meletakkan tangannya diatas kepalanya sambil berteriak, “Wahai, seandainya, Engkau cabut nyawaku, dan Engkau matikan tubuhku, dan tidak membiarkan untuk menunggu keputusan takdir-Mu”. Dan, Umar menjawab, “Dialah lelaki yang kami maksudkan”, ucapnya. Kemudian, Umar datang kepadanya dan mendekapnya, dan Tsa’labah bekata, “Wahai Umar. Apakah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, tahu tentang dosaku?”. Umar menjawab, “ Saya tidak tahu, hanya kemarin beliau menyebutmu, lalu menyuruhku dengan Salman mencarimu”. Tsa’labah berkata, “Wahai Umar, janganlah engkau bawa aku kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, kecuali beliau sedang shalat. Maka, Umar segera kedalam barisan shalat bersama dengan Salman. Dan, ketika Tsa’labah mendengar bacaan Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam jatuh pingsan.

Ketika Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah salam, Beliau bersabda, “Wahai Umar, wahai Salman apa yang dilakukan Tsa’labah?”. Keduanya menjawab, “Ini dia Rasulullah”. Kemudian, Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri menggerak-gerakan badan Tsa’labah, dan membangunkannya”. Lalu, Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau menghilang dariku?”. “Dosaku sangat besar, wahai Rasulullah”, ucap Tsa’labah. Dan, Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda, “Tidakkah aku pernah tunjukkan kepadamu ayat yang menerangkan penghapusan dosa dan kesalahan”. “Ya, wahai Rasulullah”, jawab Tsa’labah. Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda, “Bacalah”. “ …Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka”. (al-Baqarah : 201).

Tsa’labah berkata, “Wahai Rasulullah, dosaku sangat besar”. Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bahkan firman Allahlah yang paling besar”. Kemudian, beliau menyuruhnya pulang ke rumahnya. Sejak itu, Tsa’labah sakit selama delapan hari, kemudian datang Salman kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berkata, “Wahai Rasulullah, sudah tahukah engkau berita tentang Tsa’labah? Sesungguhnya, ia sedang sakit keras, karena perasaan dosanya”. “Marilah kita menjenguknya”, ucap Rasulullah.

Sesudah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai di rumah Tsa’labah, meletakkan kepala Tsa’labah diantas pangkuannya. Tetapi, setiap kepalanya diletakkan dipangkuan Rasulullah, selalu Tsa’labah menggesernya. “Kenapa kamu geserkan kepalamu dari pangkuanku?”, tanya Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Kapalaku penuh dengan dosa, wahai Rasulullah”, jawab Tsa’labah. Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya , “Apakah yang kamu lakukan?”, tanya Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Seperti rayap dan semut berada diantara tulang, daging dan kulitku”, jawab Tsa’labah. “Apakah yang kamu senangi?”, tanya Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Ampunan Tuhanku”, jawab Tsa’labah.

Kemudian, Jabir berkata, “Ketika itu turunlah Jibril Alaihisallam, mengatakan, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu mengirimkan salam padamu, dan berfirman, “JIka hamba-Ku ini menemui-Ku dengan dosa sejengkal tanah, maka Aku akan menemui dengan sejengkal ampunan”. Ketika itu, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam memberitahu Tsa’labah, dan seketika itu, Shahabat Tsa’labat menjerit, karena senang, dan kemudian meninggal.

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, menyuruh para Shahabat lainnya,memandikan dan mengkafaninya. Ketika, beliau meshalatinya, belaiu datang berjalan dengan merangkak. Ketika dimakamkan, beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, kami melihatmu berjalan merangkak”. Kemudian, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Demi Allah yang telah mengutuskan sebagai Nabi dengan haq, aku tidak bisa meletakkan kakiku diatas bumi, karena banyaknya malaikat yang turun mengantarkan jenazah Tsa’labah”. Wallahu’alam.

Ya Allah, betapa kami ini hamba-Mu yg lemah, senantiasa mengisi waktu kami dengan percuma, tak jarang pula bermaksiat kepada-Mu tanpa ada rasa takut ataupun penyesalan...

Ya Allah, jika bukan karena rahmat_Mu, tentulah kami termasuk golongan yang merugi. Bimbing kami ya Allah, agar senantiasa berusaha berjalan diatas jalan keridlaan-Mu...

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka”