01 Agustus 2009

Facebook Kalah dari Penirunya

0 komentar


Upaya situs jejaring sosial AS Facebook gagal di pengadilan Jerman. Facebook menuduh kompetitornya StudiVZ menjiplak desain miliknya. Sebelumnya Facebook berusaha membeli StudiVZ, tapi terbentur harganya yang mahal.

Facebook menuduh StudiVZ yang memiliki lebih banyak member di Jerman dibandingkan Facebook berbahasa Jerman telah melakukan penjiplakan. Situs itu juga dituduh menggunakan kode milik Facebook secara ilegal, untuk menampilkan foto dan fitur lain.

Namun pengadilan di Cologne, barat Jerman menolak gugatan itu. "Meskipun ada kemiripan antara dua situs, namun tidak ada penjiplakan yang tidak sah,” kata pengadilan dalam pernyataannya.

Pengadilan menilai StudiVZ mirip Facebook saat diluncurkan pada 2005 karena situs jejaring sosial itu hanya tersedia dalam versi Inggris hingga September 2006. Facebook juga hanya populer di Amerika Utara pada saat itu.

Versi Facebook berbahasa Jerman baru diluncurkan pada Maret 2008, saat StudiVZ telah memiliki lebih dari 10 juta member, kata jubir StudiVZ Dirk Hensen.

Pengadilan juga menyatakan Facebook tidak cukup menyediakan bukti yang mendukung tuduhannya bagian mana yang dijiplak oleh StudiVZ. Dalam banyak kasus, data permrograman tersedia luas secara gratis di internet.

StudiVZ yang bermarkas di Berlin kini memiliki 14,3 juta user dalam tiga layanannya. StudiVZ ditujukan untuk mahasiswa, SchuelerVZ untuk anak sekolah, serta meinVZ untuk yang sudah lulus.

Facebook dilaporkan ingin mencaplok StudiVZ tapi terbentur dengan harganya yang tinggi. Kelompok media Jerman Holtzbrinck, membeli perusahaan itu dari pendirinya pada Januari 2007.

Pemuda Muslim Manfaatkan Teknologi, Ciptakan Sajadah Canggih

0 komentar

Dengan menggunakan sajadah berteknologi tinggi ini, diharapkan bisa meningkatkan kualitas ibadah umat Islam, terutama saat menunaikan ibadah salat. Itulah yang diungkapkan Wael Aboulsaadat, mahasiswa bidang ilmu komputer, tentang sajadah berteknologi tinggi buatannya.

Aboulsaadat mahasiswa tahun keempat yang akan meraih gelar PhD di Universitas Toronto ini berhasil mendesain sajadah yang dilengkapi dengan sensor, lampu dan display untuk menampilkan tulisan ayat-ayat suci al-Quran dan bacaan-bacaan salat. Sensor akan mendeteksi posisi kita ketika sedang salat. Sensor akan mengeluarkan getar sebagai peringatan, jika penggunanya melakukan kesalahan sehingga menyebabkan sistem kacau, misalnya hilangnya sistem yang menunjukkan langkah-langkah ketika salat.

Sensor berupa getaran, kata Aboulsaadat, adalah cara untuk memberitahu adanya kesalahan tanpa harus mengganggu konsentrasi saat salat. "Sajadah ini akan meningkatkan kemampuan untuk membaca ayat-ayat suci al-Quran dan kualitas salat kita, " ujarnya.

Sajadah elektronik ini, juga dilengkapi fitur untuk mengingatkan waktu-waktu salat dan hari-hari besar agama Islam, alat penunjuk arah atau kompas dengan gambar tiga dimensi masjid Haram Makkah untuk memudahkan penggunanya menemukan arah Ka'bah. Sajadah canggih itu juga dilengkapi lampu-lampu, yang bisa digunakan jika kondisi tempat salat gelap.

"Anda juga bisa mengatur dan memilih ayat-ayat suci al-Quran yang ingin dibaca dalam salat, " tambah Aboulsaadat yang masih berusia 36 tahun itu.

Pembuatan sajadah berteknologi tinggi ini juga tidak sembarangan. Aboulsaadat melakukan konsultasi dengan seorang ulama untuk memastikan bahwa sajadah elektronik buatannya tidak melanggar aturan-aturan dalam Islam, terutama yang terkait dengan bacaan-bacaan al-Quran.

Aboulsaadat mengatakan, sajadahnya bisa menjadi prototipe dan bisa dikembangkan dan diadaptasi oleh agama lain untuk membuat alat serupa untuk mempermudah peribadahan agama masing-masing. (Sumber)

Pemilik Restoran Tembak Mati Pelanggan yang Tidak Patuhi Larangan Merokok

0 komentar

Mungkin kalau ada pemilik restoran seperti ini di Indonesia, bakal banyak yang akan menjadi korban mengingat Indonesia penduduknya pada doyan rokok dan tidak peduli di mana mereka merokok.

Seorang pemilik restoran di wilayah barat daya Turki telah menembak mati seorang pelanggan restorannya, setelah ia mencoba melarang pelanggan tersebut untuk tidak merokok dan mematuhi Undang-undang baru tentang pelarangan merokok di ruangan tertutup, menurut laporan dari surat kabar Turki Hurriyet pada hari Kamis lalu.

Kejadian bermula setelah pemilik restoran Hidir Karayigit 46 tahun, meminta sekelompok pelanggan untuk mematikan rokok mereka ketika mereka mulai merokok di "Meyhane" nya (sebuah restoran tradisional yang melayani minuman beralkohol) di kota Saruhanli.

Salah seorang pelanggan menembak Karayigit empat kali setelah Karayigit merampas rokok mereka, kata seorang saksi mata Hamza Havutcu - teman bisnis Karayigit yang terkena tembakan pelanggan tersebut dan terluka.

Pemerintah Turki pada tanggal 19 Juli telah menerapkan aturan baru diseluruh negeri terkait larangan merokok di dalam ruangan, termasuk bar dan restoran, meskipun faktanya bahwa separuh dari penduduk Turki berusia antara 15 sampai 49 tahun adalah perokok, dan merupakan salah satu negara yang yang tertinggi perokoknya.

"Saya sangat sedih penerapan pertama aturan larangan merokok malah menyebabkan terjadinya pembunuhan di kota kami," kata Walikota Saruhanli Veli Yalcin kepada surat kabar Hurriyet."Mereka sebaiknya mematuhi aturan untuk tidak merokok atau mereka juga harus dilarang merokok dan meminuman alkohol." (Sumber)