06 Agustus 2009

Bos Blackwater, dan Misi Perang Salibnya di Irak

0 komentar

Blackwater, salah satu perusahaan jasa keamanan dan militer swasta AS terbesar ternyata bukan hanya memberikan layanan keamanan bagi para diplomat dan militer AS di Irak, tapi juga melakukan misi "perang salib" dengan target warga Muslim Irak.

Ini terungkap di persidangan kasus pembunuhan yang dilakukan personel Blackwater di Irak di pengadilan Virginia, AS hari Senin (3/8) malam kemarin. Pendiri Blackwater, Erik Prince bukan hanya dikenakan sejumlah tuduhan mulai dari pembunuhan, penyelundupan senjata dan pembantaian warga sipil di Irak, tapi juga dituduh sebagai otak "perang salib" itu. Bukan cuma itu, Prince juga membunuh anggotanya sendiri yang dicurigai bekerjasama dengan aparat hukum di AS.

Adalah dua personel Blackwater sendiri yang mengungkapkan di pengadilan bahwa Prince telah mengarahkan pasukan Blackwater di Irak untuk "menghabisi" warga Muslim Irak. Kedua personel Blackwater oleh pengadilan disebut John Doe 1 dan John Doe 2 demi keamanan keduanya.

Dalam sebuah pernyatannya, John Doe 2 yang sudah bekerja selama empat tahun di Blackwater mengungkapkan bahwa Prince menganggap dirinya sebagai tentara perang salib Kristen yang bertugas melenyapkan orang-orang Islam dan agama Islam dari muka bumi. Untuk itu, Blackwater-perusahaan yang didirikannya-mendorong dan memberikan penghargaan bagi mereka yang bersedia menghancurkan kehidupan Islami di Irak.

Dalam pernyataannya, John Doe 2 juga mengatakan bahwa Prince sengaja mengerahkan personel Blackwater yang satu pemikiran dengannya tentang supremasi Kristen dan bersedia membunuh setiap Muslim di Irak. Personel-personel itu, kata John Doe 2, menggunakan kode panggilan yang diambil dari kelompok Knights Templar. Ia juga mengungkapkan bahwa Blackwater kerap menggunakan istilah-istilah yang bernuansa rasis dalam operasi yang dilakukannya.

Keterangan dari para personel Blackwater itu diajukan ke pengadilan oleh kuasa hukum yang mewakili 60 warga sipil Irak, yang menggugat Blackwater ke pengadilan AS atas tuduhan melakukan pembunuhan terhadap warga sipil di Irak.

Namun pihak Blackwater menolak semua tuduhan itu dan menyatakan akan menggugat balik pihak yang melontarkan tuduhan tersebut.

Blackwater merupakan perusahaan jasa militer swasta yang disewa Pentagon dan Departemen Luar Negeri untuk mengamankan konvoi dan diplomat AS di Irak. Namun para personel Blackwater ternyata bikin ulah dan terlibat dengan berbagai kasus kriminal di Irak antara lain pembunuhan dan pembantaian terhadap warga sipil Irak, narkotika sampai prostitusi anak-anak. Karena dianggap mencoreng citra AS dan militernya di Irak, pemerintah AS akhirnya memutus kontrak kerjasama dengan Blackwater pada bulan Mei lalu dan Blackwater harus kehilangan kontrak senilai jutaan dollar dari departemen luar negeri AS. (Sumber)

05 Agustus 2009

Hacker Pro-Islam Rubah Wilders Jadi Monyet!

0 komentar

AMSTERDAM – Seorang peretas (hacker) asal Turki telah menyusupi lusinan situs Belanda dan menyebarkan slogan-slogan pro-Islam dan foto politikus sayap kanan Geert Wilders yang telah diedit sedemikian rupa hingga membuatnya tampak seperti seekor monyet.

Wilders, mantan karyawan asuransi yang beralih profesi menjadi politikus dan pembuat film, mengambil sikap anti Uni Eropa, anti Islam, dan memimpin Partai Kebebasan yang diprediksi akan memperoleh peringkat pertama atau kedua dalam pemilu Belanda tahun depan.

Hacker yang bergerak atas nama “aLpTurkTegin” menulis kalimat “Kami akan terus memerangi mereka yang menentang agama Islam yang sesungguhnya” pada beberapa situs. Ia juga menempelkan sebuah logo yang menyebut dirinya “Pencemar Turki”.

Foto-foto Wilders yang dipasang beraneka ragam, namun umumnya bagian hidung atau mulutnya diganti dengan hidung atau mulut monyet.

Menurut situs Zone-H, yang melacak serangan hacker, aLpTurkTegin telah mencemari setidaknya 147 situs dalam tujuh hari terakhir, sebagian besar dengan slogan anti Wilders. Serangan terakhir dilakukan pada hari Jumat.

“Ini gila tapi apa yang bisa saya lakukan,” ujar Wilders kepada Reuters. “Ini benar-benar menjijikkan.”

Wilders mengatakan serangan terakhir ini memiliki beberapa kesamaan dengan sebuah serangan yang ditujukan pada situsnya tahun lalu, meskipun tidak jelas apakah pelakunya orang yang sama. Ia mengatakan serangkaian serangan terbaru hacker ini tidak terlalu mengganggunya.

“Sekarang hal ini bukan menyerang saya, melainkan ratusan situs Belanda yang tidak ada hubungannya dengan saya,” ujarnya.

Wilders sangat menentang pengaruh Islam terhadap kebudayaan Eropa dan keanggotaan Turki dalam Uni Eropa. Sudut pandangnya telah membuatnya dicekal di Inggris dan dituntut secara hukum di Belanda.

Ia menginap di banyak tempat dan bepergian dengan mendapat pengawalan. Meski begitu, jajak pendapat terakhir yang dilakukan Maurice de Hond pada hari Minggu, menunjukkan bahwa partainya akan dapat merebut 31 kursi dalam pemilu parlemen tahun depan.

Sebelumnya, lebih dari separuh penduduk Belanda keturunan Turki dan Maroko mengatakan bahwa mereka sedang mempertimbangkan untuk pergi dari negara itu karena meningkatnya serangan oleh politisi anti Islam, Geert Wilders. Menurut hasil survey yang diumumkan pada hari Senin, sepertiga dari mereka mengatakan keinginannya untuk beremigrasi.

Program televisi Netwerk menyelenggarakan survei tersebut sebagai respon atas keberhasilan partai Wilders, Partai Kebebasan (PVV), dalam pemilu parlemen Eropa baru-baru ini. Lembaga penelitian Motivaction mewawancarai 319 orang Turki dan Maroko tentang perasaan mereka terhadap negara Belanda secara umum dan khususnya Wilders. Mayoritas (70%) Muslim Belanda adalah keturunan Turki atau Maroko.

Geert Wilders, anggota parlemen Belanda, telah mengeluarkan pernyataan memuakkan yang penuh kebencian dan mendorong diskriminasi dengan menyebut AL-Qur’an sebagai sebuah buku fasis, membandingkannya dengan buku Hitler, Mein Kampf, dan mengobarkan kebencian dengan membuat film berjudul “Fitna”.

Yang lebih kurang ajar, Wilders juga menambahkan, “Di masa sekarang Nabi Muhammad akan diburu sebagai seorang teroris.” (Sumber)

04 Agustus 2009

Israel Buka Kantor Dagang di Jakarta

0 komentar

Beberapa sumber perekonomian negara Israel mengabarkan jika pihaknya telah membuka kantor dagang di ibu kota Indonesia, Jakarta. Meskipun tidak adanya hubungan diplomatik antara kedua negara, namun hal tersebut tidak menjadi halangan pihak Israel untuk memiliki kantor dagang khusus di ibu kota negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia itu.

Orah Korn, koresponden pada desk ekonomi di harian Dza Marker berbahasa Ibrani yang terbit di Israel, menuliskan laporan jika Israel tengah berupaya memperluas jaringan dan hubungan ekonominya dengan negara-negara di Asia Tenggara, salah satunya adalah Indonesia.

Tujuan dibukanya kantor dagang Israel di Jakarta sendiri, demikian Korn, adalah untuk memulai babak baru hubungan ekonomi antara Israel dan Indonesia.

Ternyata, sebelum kantor dagang Israel itu dibuka di Jakarta, hubungan "gelap dan diam-diam" antara Indonesia dan Israel telah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu.

Hal tersebut diungkapkan sendiri oleh Ran Kohin, kepala kantor dagang Israel-Asia. Kohin menegaskan, dibukanya kantor dagang Israel di Jakarta merupakan hasil dari perkembangan yang baik dalam hubungan ekonomi antara Indonesia dan Israel yang telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu, meskipun tak ada hubungan diplomatik antara keduanya.

Ditambahkan oleh Kohin, Israel melihat adanya peluang serta potensi pasar dagang dan ekonomi yang begitu besar di Indonesia. Negara tersebut dipandangnya sebagai negara yang subur, memiliki cadangan sumber daya alam yang melimpah, memiliki wilayah yang luas (seluas benua Eropa), juga penduduk yang mencapai 200 juta jiwa.

"Dengan segala potensi itu, Indonesia bisa menjadi kekuatan ekonomi yang besar," terang Kohin.

Jabatan kepala kantor dagang Israel untuk Indonesia sendiri dipegang oleh Immanuel Shahaf. Shahaf menegaskan, pihaknya akan bekerja keras untuk kemajuan hubungan dagang kedua negara. (Sumber)