04 September 2009

Ternyata Geert Wilders Yahudi Belanda Berasal Dari Jawa Timur

0 komentar

Politikus Geert Wilders ternyata Yahudi berdarah Indonesia. Nenek buyutnya berasal dari keluarga Yahudi Hindia Belanda (kini Indonesia) dengan nama keluarga Meijer. Identitas ini dicoba ditutupi dengan mengecat pirang rambutnya.

Demikian hasil penelitian ginealogis Dr. Lizzy van Leeuwen, spesialis sejarah poskolonial Belanda, dalam mingguan opini De Groene Amsterdammer edisi pekan ini (3/9/2009).

"Kakek buyutnya adalah Johan Ording, Wakil Direktur Pengawas Keuangan di Jawa Timur dan bukan seorang militer seperti pengakuan Wilders sebelumnya," ungkap Van Leeuwen.

Ording dipecat di 1934 karena ‘penyalahgunaan berat’ dan biaya perjalanannya kembali ke Hindia Belanda -dia saat itu sedang liburan di Negeri Belanda- tidak diganti.

Van Leeuwen menemukan data tentang Johan Ording ini di Nationaal Archief (Arsip Nasional), Den Haag.

Selain itu Ording juga tidak mendapat pensiun, sehingga keluarganya mengalami kesulitan keuangan berat. "Tak bisa lain, peristiwa kurang menyenangkan itu telah meninggalkan jejak mendalam dalam keluarga itu," terang Van Leeuwen.

Van Leeuwen mendeskripsikan bahwa sejarah keluarga Wilders yang berakar di Hindia Belanda itu memiliki pengaruh besar pada ideologi politiknya. "Melebihi apa pun, Wilders dapat ditempatkan sebagai pendendam poskolonial pur sang, terobsesi oleh pembalikan perubahan demografis pascaperang dan pelurusan kesalahan sejarah," paparnya.

Dalam artikelnya Van Leeuwen juga mengaitkan antara Wilders dengan Nationaal-Socialistische Beweging/NSB (Gerakan Sosialistis Nasional) (detik).

Menyusul Artikel Aftonbladet, Otoritas Palestina Bentuk Komisi Penyelidik

0 komentar

Otoritas Palestina membentuk komite khusus yang akan menyelidiki "jual beli organ tubuh" yang diduga dilakukan tentara-tentara Israel terhadap warga Palestina. Otoritas Palestina memutuskan untuk menyelidiki kasus ini menyusul artikel yang ditulis surat kabar Swedia, Aftonbladet dan makin mencuatnya desakan dari para keluarga korban di Palestina agar kasus tersebut diselidiki.

Tanggal 17 Agutus lalu, harian Aftonbladet memuat artikel berjudul "They Plunder the Organs of Our Sons" tentang dugaan tentara-tentara Israel yang menangkapi orang-orang Palestina untuk diambil organ tubuhnya dan dijual kembali ke pasar gelap. Artikel ini membuat pihak Israel berang dan mendesak pemerintah Swedia agar menolak artikel tersebut.

Sekjen Dewan Menteri Palestina di Ramallah, Hasan Abu Libda menyatakan, komite penyelidik itu dibentuk atas perintah dari otoritas Palestina berdasarkan artikel yang dimuat surat kabar Aftonbaldet. Dalam wawancara dengan Radio Palestina, Abu Libda menambahkan, komite itu akan bergerak dalam level internasional.

Menurutnya, otoritas Palestina merespon isu ini dengan serius karena pengambilan organ tubuh manusia secara paksa untuk diperjualbelikan adalah tindakan melanggar hukum internasional, melanggar hak asasi manusia dan melangar hukum agama.

"Kalau dugaan ini terbukti, kami akan mengambil langkah yang tegas," tukas Abu Libda.

Komite penyelidik akan melibatkan menteri dalam negeri, menteri kesehatan dan menteri luar negeri yang akan memimpin investigasi.

Pihak Israel sendiri sampai saat ini masih berupaya menempuh jalur hukum setelah gagal menempuh jalur diplomatik untuk membantah artikel tersebut. Rejim Israel mengancam akan mengajukan gugatan hukum terhadap Aftonbladet, dengan gugatan sebesar 7,5 juta dollar AS karena dianggap telah memfitnah Israel.

Sementara Donald Bostrom, wartawan lepas Aftonbladet yang menulis artikel tersebut menolak tuntutan Israel untuk minta maaf. Ia menyatakan menulis artikel itu setelah melakukan penelitian dan mewawancari sejumlah keluarga Palestina yang kehilangan kerabatnya pada tahun 1992, di masa perlawanan Intifada. (Sumber)

03 September 2009

Nasib Anak-Anak Irak Akibat Persenjataan AS

0 komentar

Perang di Irak menyisakan masa depan yang suram bagi anak-anak di Negeri 1001 Malam itu. Sisa-sisa bahan kimia dari persenjataan perang yang digunakan pasukan AS di Irak menyebabkan bayi-bayi di Irak lahir dalam kondisi cacat dan dipekirakan jumlah bayi-bayi yang cacat ini akan terus bertambah.

Kementerian Kesehatan Irak beberapa waktu lalu sudah mengingatkan adanya bahaya ini. Mereka menyatakan kekurangan dana untuk melakukan pembersihan terhadap sis-sisa zat kimia beracun yang berasal dari persenjataan pasukan AS.

Sky News sejak setahun yang lalu melakukan investigasi terhadap banyaknya jumlah anak-anak yang lahir cacat, terutama di kota Fallujah, salah satu kota yang kerap menjadi pusat pertempuran antara pasukan koalisi AS dan para pejuang Irak. Bayi-bayi yang lahir cacat diduga sebagai dampak dari kandungan zat kimia berbahaya yang berasal dari persenjataan pasukan AS.

Bulan Mei tahun 2008, jaringan berita ini mendokumentasikan sosok Fatima Ahmed, seorang anak perempuan Irak berusia tiga tahun yang lahir dengan benjolan di kepalanya, sehingga terlihat seperti memiliki dua kepala. Kondisi Fatima saat itu sungguh memprihatinkan, ia sulit bernapas dan tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Fatima tidak mampu bertahan hidup, ia meninggal dunia sebelum mencapai usia empat tahun.

Menurut cerita ibu Fatima, Shukriya, malam itu ia menidurkan anaknya seperti biasa. Ketika terbangun, ia merasa ada yang tidak beres dengan Fatima. Ketika digendong ayahnya, tubuh Fatima sudah dingin dan mereka tahu bahwa puterinya sudah tiada.

Anak perempuan lainnya yang juga lahir cacat adalah Tiba Aftan. Aftan lahir dengan benjolan yang tumbuh di bagian mukanya dan hampir menutupi sebagian kening dan matanya. Semakin usia Aftan bertambah, benjolan itu makin membesar dan melebar. Tapi ia masih beruntung, karena bisa melaksanakan operasi di Yordania. Meski saat ini, Aftan masih harus menjalani operasi lanjutan yang membutuhkan biaya besar.

Menurut Sky News, dalam delapan bulan terakhir mereka menemukan kasus-kasus baru bayi yang lahir cacat di kota Fallujah. Sejauh ini memang belum ada kepastian yang bisa menjelaskan apa penyebab dari kecacatan bayi-bayi itu. Tapi banyak warga Irak berkeyakinan bahwa hal itu disebabkan karena zat-zat kimia yang berasal dari bom-bom pasukan AS yang membombardir kota Fallujah pada tahun 2004.

Dokter spesialis anak di Fallujah, Dr Ahmed Uraibi mengakui makin banyak menemui kasus-kasus bayi yang lahir dalam kondisi cacat setahun belakangan ini. Rakyat Irak mendesak pemerintah untuk segera menyelidiki masalah ini dan mengambil langkah untuk mencegah makin bertambahnya bayi-bayi Irak yang lahir dalam kondisi cacat. (Sumber)