24 Juni 2010

Kisah Sufi Penyayang Binatang

0 komentar

Mungkin sulit sekali mencari penyayang binatang semacam Syekh Ahmad ar-Rifa’i. Beliau adalah tokoh sufi besar pendiri tarekat Rifa’iyah, sebuah ordo sufi yang memiliki banyak pengikut, terutama di daratan Afrika Utara.

Konon, bila ada nyamuk hinggap dan menggigitnya, beliau tidak pernah mengusirnya. Bila ada orang hendak mengusir nyamuk yang menggigit tubuh beliau itu, beliau justru melarangnya.

“Biarkan nyamuk ini minum dari darah yang telah dijadikan sebagai bagian rejekinya oleh Allah,” kata beliau.

Bila ada belalang hinggap di pakaiannya saat sedang berjalan di bawah terik matahari, maka beliau mencari tempat yang teduh. Beliau duduk berdiam diri di situ sampai belalang itu pergi sendiri. “ Belalang ini ingin berteduh dengan bantuan kita,” katanya.

Konon pernah ada seekor kucing tidur di atas lengan baju miliknya. Beliau tidak sedikitpun mengganggunya sampai kucing itu bangun sendiri dan pergi. Ketika waktu salat tiba, Syekh ar-Rifa’I tetap tidak mau menarik lengan bajunya. Beliau malah menggunting lengan bajunya itu, lalu pergi salat. Setelah kucing itu bangun dan pergi, beliau menjahit kembali lengan bajunya itu. Subhanallah!

Suatu waktu, Syekh ar-Rifa’I pernah mendapati seekor anjing dengan tubuh nyaris hancur penuh kudis. Anjing itu diusir penduduk karena tubuhnya betul-betul menjijikkan. Maka, Syekh mengantarkannya ke sebuah gurun tak berpenghuni. Di tempat itu, beliau membuatkan sebuah kandang yang teduh untuk anjing tersebut. Lalu beliau meminyaki tubuhnya, menyediakan makan dan minumnya, juga menggosok kudisnya dengan sebuah kain. Setelah anjing itu sembuh, beliau membawakan air hangat, lalu memandikannya.(Sumber)

Keutamaan Ali Bin Abu Thalib R.a.

0 komentar

Pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyatakan bahwa dirinya diibaratkan sebagai kota ilmu, sementara Sayidina Ali bin Abi Thalib adalah gerbangnya ilmu. Mendengar pernyataan yang demikian, sekelompok kaum Khawarij tidak mempercayainya. Mereka tidak percaya, apa benar Ali bin Abi Thalib cukup pandai sehingga ia mendapat julukan "gerbang ilmu" dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Berkumpullah sepuluh orang dari kaum Khawarij. Kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut. Seorang di antara mereka berkata, "Mari sekarang kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah saja. Bagaimana jawaban Ali tentang masalah itu. Kita bisa menilai seberapa jauh kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?"


"Setuju!" jawab mereka serentak.


"Tetapi sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja", saran yang lain.

"Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali. Namun bila jawaban Ali nanti selalu berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali adalah orang yang cerdas."


"Baik juga saranmu itu. Mari kita laksanakan!" sahut yang lainnya.

Hari yang telah ditentukan telah tiba. Orang pertama datang menemui Ali lantas bertanya, "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"


"Tentu saja lebih utama ilmu," jawab Ali tegas.


"Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir'aun, Namrud dan lain-lainnya, " Ali menerangkan.


Setelah mendengan jawaban Ali yang demikian, orang itu kemudian mohon diri.

Tak lama kemudian datang orang kedua dan bertanya kepada Ali dengan pertanyaan yang sama. "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"


"Lebih utama ilmu dibanding harta," jawab Ali.


"Mengapa?"


"Karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau harus menjaganya."

Orang kedua itu pun pergi setelah mendengar jawaban Ali seperti itu. Orang ketiga pun datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya.


"Bagaimana pendapat tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?"

Ali kemudian menjawab bahwa, "Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu?"


"Mengapa bisa demikian tuan?" tanya orang itu penasaran.


"Sebab orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh. Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan hormat kepadanya."


Setelah orang itu pergi, tak lama kemudian orang keempat pun datang dan menanyakan permasalahan yang sama. Setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh orang itu, Ali pun kemudian menjawab, "Ya, jelas-jelas lebih utama ilmu."


"Apa yang menyebabkan demikian?" tanya orang itu mendesak.


"Karena bila engkau pergunakan harta," jawab Ali, "jelas-jelas harta akan semakin berkurang. Namun bila ilmu yang engkau pergunakan, maka akan semakin bertambah banyak."

Orang kelima kemudian datang setelah kepergian orang keempat dari hadapan Ali. Ketika menjawab pertanyaan orang ini, Ali pun menerangkan, "Jika pemilik harta ada yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani."


Orang keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula. Namun tetap saja Ali mengemukakan alasan yang berbeda. Jawaban Ali tersebut ialah, "Harta akan selalu dijaga dari kejahatan, sedangkan ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan, lagi pula ilmu akan menjagamu."

Dengan pertanyaan yang sama orang ketujuh datang kepada Ali. Pertanyaan itu kemudian dijawab Ali, "Pemilik ilmu akan diberi syafa'at oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala di hari kiamat nanti, sementara pemilik harta akan dihisab oleh Allah kelak."


Kemudian kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Mereka yang sudah bertanya kepada Ali mengutarakan jawaban yang diberikan Ali. Mereka tak menduga setelah mendengar setiap jawaban, ternyata alasan yang diberikan Ali selalu berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugasnya. Mereka yakin bahwa tiga orang itu akan bisa mencari celah kelemahan Ali. Sebab ketiga orang itu dianggap yang paling pandai di antara mereka.

Orang kedelapan menghadap Ali lantas bertanya, "Antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama wahai Ali?"


"Tentunya lebih utama dan lebih penting ilmu," jawab Ali.


"Kenapa begitu?" tanyanya lagi.


"Dalam waktu yang lama," kata Ali menerangkan, "harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi."


Orang kesembilan datang dengan pertanyaan tersebut. "Seseorang yang banyak harta", jawab Ali pada orang ini, "akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang kaya ilmu dianggap intelektual. "

Sampailah giliran orang terakhir. Ia pun bertanya pada Ali hal yang sama. Ali menjawab, "Harta akan membuatmu tidak tenang dengan kata lain akan mengeraskan hatimu. Tetapi, ilmu sebaliknya, akan menyinari hatimu hingga hatimu akan menjadi terang dan tentram karenanya."

Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji oleh orang-orang itu. Sehingga dia berkata, "Andaikata engkau datangkan semua orang untuk bertanya, insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup."

Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah. Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas adalah benar adanya. Dan Sayidina Ali memang pantas mendapat julukan "gerbang ilmu". Sedang mengenai diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sudah tidak perlu diragukan lagi


20 Juni 2010

"Mantra" Korupsi

0 komentar

Sun amathek ajiku ajian korupsi

Nedyo sugih bondo donya sarwo mbejaji

Ora geter telik sandi lawan cerenging jekso

Ora gigrik surak lan supataning sapepodho

Ora tedas tapak paluning hakim kang mbaurekso

Sluman Slumun Slamet

Ngupoyo lenaning kang andum kuwoso

Murih lancar nguras kas kayaning negoro

Hooooooo……..


Ajiku ajian korupsi

Mataku mata birokrat

Kupingku kuping tehnokrat

Lambeku lambe pejabat

Irungku irung pengamat

Dhadaku dhada malaikat

Sikilku sikil masyarakat

Wetengku kebak nikmat

Tanganku tangan konglomerat

Kebat Kliwat mbeburu berkat

Tansah gangsar ndonya akherat

Hoooooooo………


Ajian korupsi satuhu rapalku

Jaran goyang esemku

Semar mendhem caturku

Candramowo paningalku

Welut putih langkahku

Sadengah papan andhon laku

Adol guyu nyaring isu

Dalanku tansah lumintu

Sakkabehing referensi dadi gamanku

Sakkabehing bang dadi bangku

Hoooooooo……..


Ajiku ajian korupsi

Jimatku jimat kolusi

Tamengku tameng kongsi

Payonku payon proteksi

Papanku papan lisensi

Sedulurku koneksi sinorowedi

Citraku citra telepisi

Ugemanku nunggal sawiji

Status quo tansah lestari

Sun amatek ajiku ajian korupsi

Ajian sakti sang anak negeri

So pasti senantiasa is the best number siji

Maka merdekalah aku sampai mati

Hooooooo………..

(Sumber "Kitab")