04 Agustus 2009

Menteri Israel: Fatah Deklarasikan Perang

0 komentar

Menteri Penerangan dan Diaspora Israel, Yuli Edelstein melontarkan pernyataan provokatif atas pelaksanaan kongres Fatah di Bethlehem. Ia mengecam Fatah yang menyatakan akan meneruskan perlawanan bersenjata dalam menghadapi rezim Zionis Israel.

Menurut Edelstein, Fatah sudah mendeklarasikan perang terhadap Israel. "Kita tidak boleh bersikap pura-pura tidak mendengar apa yang mereka (Fatah) katakan. Kita harus bangkit dari lingkaran ilusi bahwa ada orang-orang moderat yang menginginkan perdamaian. Mereka (Fatah) jelas-jelas mengatakan mendukung dilanjutkannya perlawanan bersenjata," tukas Edelstein.

Ia menambahkan, Israel tidak berminat mendengarkan suara-suara yang menyerukan perlawanan senjata, hak kembali para pengungsi (Palestina) dan dijadikannya Yerusalem sebagai ibukota negara Palestina kelak. " Dengan pemimpin-pemimpin seperti inikah (Fatah) yang diinginkan dunia pada kita untuk bernegosiasi?" kecam Edelstein.

Menteri dari Partai Likud ini menilai gerakan Fatah sudah meniru Hamas. Ia menyerukan pemerintahan di Israel untuk segera bertindak di level internasional. Edelstein menolak tudingan dunia internasioanal yang menyebutkan bahwa pembangunan pemukiman Yahudi di tanah Palestina oleh Israel membahayakan proses perdamaian. Ia malah menyebut negara Palestina-lah, yang sekarang dipegang oleh Fatah sebagai pihak yang paling ekstrim dan berbahaya.

Untuk itu Edelstein menyerukan pemerintah Israel untuk tetap melanjutkan pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem dengan dalih bahwa otoritas Palestina di Nablus dan Jenin melawan Hamas hanya untuk kepentingan sendiri dan bukan untuk kepentingan "perdamaian" dengan Israel.

Sejak awal, sejumlah pejabat Israel mengecam rencana Fatah menggelar konferensinya di Bethlehem. Sejak konferensi di Tunisia tahun 1989, Fatah yang ketika itu masih dipimpin Yaser Arafat tidak lagi menggelar konferensi tahunan. Tekait konferensi Fatah, Kepala Shin Beth-badan intelejen dalam negeri Israel-Avi Dichter menyebut konferensi itu bisa memicu perlawanan intifada ketiga rakyat Palestina terhadap rejim Zionis Israel. (Sumber)

Cari: AS Desak Israel Hentikan Pengusiran Orang Palestina

0 komentar

Washington (ANTARA/ Xinhua-OANA) - Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, Senin, mendesak Israel agar berhenti mengusir keluarga Palestina dari Jerusalem timur.

Ketika berbicara kepada wartawan setelah pembicaraan dengan timpalannya dari Jordania Nasser Judeh, Hillary mengatakan pengusiran provokatif Israel terhadap keluarga Palestina dari Jerusalem timur sangat disesalkan.

"Saya mendesak pemerintah Israel dan pejabat kota praja agar menahan diri dari tindakan provokatif semacam itu. Kedua pihak memiliki tanggung jawab menahan diri dari tindakan provokatif yang dapat menghalangi jalan menuju kesepakatan perdamain menyeluruh," kata Menteri Luar Negeri AS tersebut.

"Tindakan sepihak yang dilakukan oleh masing-masing pihak tak dapat digunakan untuk memutuskan lebih dulu hasil perundingan. Dan semua itu takkan diakui sebagai perubahan status quo," kata Kepala Diplomat AS itu.

Judeh mengumandangkan pernyataan Hillary, dan menyatakan pengusiran keluarga Palestina oleh Israel dari Jerusalem timur "bukan hanya tak disambut baik dan dikutuk". "Kami berharap semua itu dihentikan, dan dihentikan secepatnya".

Polisi Israel dilaporkan memaksa dua keluarga Palestina, dengan 53 orang, meninggalkan rumah mereka di permukiman Arab, Ash-Sheikh Jarrah, di Jerusalem timur, Ahad pagi, setelah satu pengadilan memutuskan bahwa semua rumah itu dimiliki oleh pemukim Israel.

Bentrokan antara pasukan Israel dan warga Palestina terjadi selama pengusiran kedua keluarga tersebut, yang memiliki hampir 20 anak kecil.

Pemerintah Presiden AS Barack Obama telah berulangkali menyeru Israel agar menghentikan semua kegiatan permukiman, yang oleh Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) telah dijadikan prasyarat utama mereka guna melanjutkan pembicaraan perdamaian dengan Israel.

Pada Rabu pekan lalu, negara kuat regional di Timur Tengah, Arab Saudi, menyatakan takkan mengakui Israel sampai negara Yahudi itu keluar dari tanah Arab yang didudukinya dan membuat komitmen ke arah penyelesaian dua negara yang langgeng.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Arab Saudi Osama Nugali juga menyebut kebijakan Israel sebagai menderita schirofrenia dan mengatakan itu membahayakan semua upaya guna menghidupkan kembali pembicaraan perdamaian Timur Tengah dengan tujuan menciptakan negara Palestina merdeka.

"Posisi kami sudah diketahui. Israel lah yang harus melakukan tindakan sungguh-sungguh ke arah proses perdamaian," kata Nugali.

"... Israel terus melakukan tindakan sepihak dengan mengubah fakta demografis dan geografis di lapangan, dengan membuat permukiman dan memperluas permukiman yang ada," katanya.

"Israel mesti mundur dari tanah Arab dan mengakhiri pendudukannya dan menyelesaikan masalah utama konflik," katanya. Ia mengutip masa depan masalah pembagian air, pengungsi Palestina, dan status masa depan Jerusalem sebagai ibukota kedua negara.

Masalah seperti itu harus diselesaikan "guna mencapai perdamaian yang menyeluruh, adil dan langgeng yang dilandasi atas pembentukan negara Palestina yang merdeka dan mampu bertahan", kata Nugali. (Sumber)

03 Agustus 2009

Siapa yang Porno, Dia ... Atau Kita ???

0 komentar

Kita tidak pernah tau akan niat hati seseorang...
Terkadang manusia mudah terjebak oleh sempitnya pikiran...
Banyak yang terlalu mudah menilai sesuatu dari hanya sekelebatan tanpa mau bersabar dan menelaah suatu permasalahan dari secara keseluruhan... Mo tau contohnya???

Jika anda melihat awal tanpa mau melihat akhir, maka anda akan terjebak pada kesempitan pola pikir anda...

So... mari melihat suatu permasalan secara lengkap tanpa menilai dari potongan2nya...

Enjoy it guys....